Pulang Ke Palungmu


“Apa boleh buat, aku akan menyusulmu.” Ia telah memutuskannya. Setelah menenggak empat botol anggur putih dan menghisap tujuh bungkus rokok kretek. Dari apitan jari telunjuk dan jari tengahnya, puntung rokok berserakan di berbagai sudut kamar indekosnya. Ruang sempit yang menyedihkan itu berisikan selembar kasur kapuk dengan noda-noda abstrak sebagai riasannya, ada juga satu lemari kayu yang pintunya hanya tunduk jika diselipkan lipatan karton, serta sebuah kursi reot ditemani satu meja lapuk yang di dalamnya terdapat imperium rayap.

Ia tengah duduk di atas kursi kala memutuskan itu. Wajahnya merah. Matanya fokus ke satu titik, tak berkedip sedikitpun. Ia menatapnya seakan-akan barang itu akan berpindah sejengkal, jika saja pandangannya teralihkan sepersekian detikpun. Tanpa mengalihkan pandangan, tangan kirinya meraih botol anggur putih yang ada di sampingnya. Ia sama sekali tak takut akan resiko tersenggolnya botol itu. Ia benar-benar hapal posisi botol itu. Ia sendiri yang membariskannya dengan rapi dari ujung meja hingga hampir menemui ujung lainnya, dan karenanya ia juga sadar bahwa botol yang diraihnya kali ini adalah yang terakhir. 

Sebatang rokok yang baranya masih jauh dari apitan jarinya tanpa ragu ia benamkan dalam-dalam ke daun meja. Semacam memiliki dendam kesumat pada rokok itu, ia membenamkannya begitu dalam hingga ujung jarinya ikut tenggelam bersama rokok yang ingin dibunuhnya. Setelah rokok itu mati menyisakan sisa-sisa tembakau yang tak habis terbakar, ia–seakan tak puas dengan terkulainya si rokok—melemparnya ke belakang. Menambah gelimpangan puntung rokok yang dihisap separuh oleh bibirnya dan dieksekusi oleh jarinya. 

Namun, matanya masih bertarung dengan barang itu. Ia serupa panglima perang yang sedang menguras otak untuk menghabisi musuhnya, hanya saja ia sedang tidak berperang, tapi setidaknya ia punya musuh. Ia perhatikan dengan saksama tiap-tiap lekukan yang ada pada barang itu. Ia agaknya takut dengan barang itu, tapi tak dapat menepis kenyataan bahwa ia sedikit menaruh kagum padanya.

“Kamu tak perlu menunggu lebih lama lagi,” ucapnya dengan mata yang masih terpaku pada barang itu. “Sebentar lagi aku akan menyusulmu, sayang.”

***

“Apa maksudmu?” tanyanya dengan wajah yang sama sekali dipenuhi kebingungan. Ia betul-betul tak paham dengan apa yang dimaksud oleh kekasihnya. Ia merasa kalimat yang dilontarkan oleh kekasihnya sebelum ia balas dengan tanya adalah bahasa asing yang jika ia saja tak paham, maka mustahil bagi orang lain untuk memahaminya. Kekasihnya bergeming tanpa sedikitpun ekspresi selama beberapa lama sebelum akhirnya menjawab ketidakpahamannya.

“Tahu tidak? Kita ini hampir mirip dengan gulungan ombak. Mereka saling memburu dan juga saling merayu. Namun, kala menyentuh bibir pantai, ombak itu tersipu malu, lalu pulang ke palungnya.” 

“Aku masih belum paham.” 

“Sebenarnya aku juga tidak begitu paham. Meski begitu, aku tahu kalau aku harus pulang ke palungku. Walau sebenarnya aku juga tidak tahu apakah itu ada. Tapi setidaknya aku harus pulang terlebih dahulu untuk tahu keberadaannya.”

“Dan meninggalkanku?” Tanyanya lagi. Ia mulai mengerti. Namun, kali ini rasa penasarannya hilang ditelan mentah-mentah oleh rasa takut. “Apa kamu tak lagi mencintaiku?”

Pertanyaan terakhir mencetak senyum di bibir kekasihnya. Senyum kekasihnya itu tanpa aba-aba menanggalkan rasa takutnya, dan kembali melukiskan kebingungan di wajahnya. “Kenapa kamu tersenyum? Aku ini sungguh-sungguh bertanya.”

“Kamu beruntung aku hanya tersenyum, tadi aku mungkin saja mati karena tertawa. Tapi mujur, aku bisa menahannya.”

“Aku pikir tidak ada yang lucu dari pertanyaanku.” 

“Itu menurutmu. Kalau menurutku lucu kok,” kekasihnya terdiam sejenak sembari memandang ombak yang rela menabrakkan diri ke bibir pantai, “satu-satunya yang membuat aku menimbang-nimbang kepulanganku adalah kamu. Setelah banyak hal yang sudah kulalui hingga saat ini, aku tersadar bahwa aku telah jatuh cinta begitu dalam pada dua hal, kamu dan juga palung. Tapi setelah kupikir-pikir, aku tak dapat bercinta dengan dua hal itu secara bersamaan. Jadi, aku pilih salah satunya. Aku memilih palung.”

“Kenapa bukan aku?” Ia menuntut jawaban sang kekasih.

“Karena kamu ada di sini. Di tempat aku telah melalui banyak hal itu. Sedangkan palung ada di tempat lain, sama sekali asing buatku. Ada tidaknya saja aku tak dapat memastikan. Tapi, yang pasti ia telah membuatku tergila-gila,” Jawabnya tanpa sedikitpun keraguan. “Kalau kamu mau, kamu bisa saja menyusulku. Siapa tahu aku berubah pikiran. Mungkin di sana aku butuh dua hal untuk dicintai.”

Ombak masih saling beradu untuk sampai ke bibir pantai yang lesu tak berdaya. Matahari yang hampir masuk ke peraduannya dengan tulus memberi sepotong sinar untuk menerangi pertarungan gelombang pasang yang penuh antusias. Ia masih mencoba mencerna kata-kata kekasihnya. Perasaannya campur aduk. Ia takut, bingung, cemas, sekaligus gelisah, satu-satunya yang tak ada saat itu hanya bahagia. 

Ia pun menatap mata kekasihnya, mencoba mencari jawaban yang bisa ia pahami. Tapi yang ada hanya lautan lepas dengan ombak yang lebih liar dari ombak di tempatnya saat ini. Lautan itu sama sekali tak memberi jawaban, tapi justru menambah ribuan pertanyaan yang berdesakan masuk ke kepalanya. 

Di tengah pertanyaan yang berdesakan, ombak setinggi empat meter tanpa basa-basi menghantam mereka berdua. Ia dan kekasihnya didorong oleh sang ombak, lalu diseret sang ombak ikut pulang. Ia sempat bangkit dan bersusah-payah melawan tenaga sang ombak. Ia meninju-ninju ke segala arah, berharap tinjunya mengenai tengkuk sang ombak. Sang ombak pun menyerah dan meninggalkannya di bibir pantai sendirian.

***

Tatapannya masih berjibaku dengan barang itu ketika tangan kirinya bergerak naik dan mempertemukan bibir botol dengan bibirnya. Isi botol itu dengan beringas ia habiskan hanya dengan sekali sentuhan bibir. Setelah merasakan tetes terakhir, botol itu ia lemparkan ke dinding di sebelah kirinya. Lalu untuk pertama kali sejak menenggak isi botol yang pertama, ia berdiri dan melangkahkan kaki menuju tempat nahas botol yang kini menyisakan beling itu. Ia mengambil beling terbesar dan tertajam diantara yang lain dengan tangan kanannya.

Ia menyusuri beling itu dengan mata. Ia mencari titik teruncing dari bangkai botol yang dilemparkannya. Senyum puas terlukis di bibirnya setelah mendapatkan yang ia cari. Tanpa berlama-lama ia pun menancapkan titik teruncing itu ke lengan kirinya. Darah memancar dengan deras menghiasi beling yang membantu terbebasnya aliran darah itu. Belum, pikirnya. Ia meneruskan tancapan beling itu dalam bentuk guratan di sepanjang lengan kirinya. Guratan itu membuka lebar jalan keluarnya darah.

Masih belum. Beling itu ia cabut lalu ia pindahkan ke genggaman tangan kirinya dengan susah payah. Ia berniat untuk menggurat lengan kanannya. Namun, tangan kirinya yang telah bermandikan darah sudah tak dapat mewujudkan niatnya itu. 

Masih belum, pikirnya. Ia akhirnya menjatuhkan beling itu dan mengumpulkan beling-beling yang lebih kecil dengan tangan kanannya. Tanpa ragu ia memasukkan beling-beling ke dalam mulut. Kunyahan demi kunyahan yang ia lakukan berhasil membuat darah melumer keluar melalui bibir. Menambah lautan darah di lantai indekos.

Masih belum. Ia berjalan dengan gontai ke tempat semula ia berada. Lengan kirinya terayun-ayun tanpa daya meneteskan darah sepanjang perjalanan menuju meja. Ia dengan perlahan mendudukkan diri dan tanpa aba-aba menghantamkan kepala ke daun meja. Meja yang lapuk itu berbunyi dengan keras, mengagetkan seluruh masyarakat imperium rayap. Satu per satu rayap keluar dari meja yang lapuk itu, mencari tahu asal muasal bunyi yang mengganggu kedamaian mereka.

Masih belum. Sekali lagi tanpa aba-aba ia menghantamkan kepalanya ke meja. Kali ini lebih kuat. Bunyi yang dihasilkan meja yang lapuk itu pun lebih nyaring dan lebih menakutkan, karena membawa sinyal akan runtuhnya tempat bernaung imperium rayap yang masyhur. 

Masih belum, pikirnya. Hidungnya telah bengkok sedemikian rupa ke arah kiri. Pelipis kanan memancurkan darah. Mulutnya yang sobek luar dalam oleh beling kecil yang ia kunyah sebelumnya, tak menjadi lebih baik oleh tindakannya. Ia menghantamkan kepalanya sekali lagi. Kali ini, hantaman kepalanya benar-benar menghancurkan imperium rayap. Mejanya rubuh, ia pun ikut rubuh.

Masih belum, pikirnya. Penglihatannya yang mulai kabur menelisik keberadaan barang yang menemaninya tadi. Tangan kanannya ikut meraba-raba. Tunggulah sayang, aku akan menyusulmu, ucapnya dalamnya hati, mulutnya sudah tak mampu mengolah kata-kata lagi. Barang itu akhirnya sampai di genggaman. Dengan sekuat tenaga ia membalikkan badan. Memperbaiki posisinya dari telungkup menjadi telentang.

“Aku tahu ini masih belum cukup, pikirnya. Tapi izinkan aku untuk menyusulmu, sayang”.

Dengan tenaganya yang tersisa, moncong barang itu ia arahkan tepat ke dahinya. Jari kanannya mulai meraba-raba masuk ke pelatuk barang itu. Matanya memandang ke langit-langit indekos, membayangkan kekasihnya yang tengah menunggunya, kekasihnya yang kini mampu mencintai dua hal sekaligus. Tanpa aba-aba, sekali lagi, ia menarik pelatuk barang itu.

Semuanya gelap, tak pernah lebih gelap dari ini. Tak ada sedikitpun cahaya, tak ada sedikitpun warna. Ia tak mendapati apapun yang ia cari, tak ada kekasihnya, pun palungnya.


Author : San Lee 

Editor : Lullaby_boy

 

 

 

Previous MENYIKAPI RKHUP, ALARM: LAWAN KEBRUTALAN NEGARA!
Next KOMITE AKSI HAM SERUKAN TOLAK RKUHP

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *