Senioritas: Jerat Tradisi atau Jembatan Kesetaraan di Kampus Merah (Unhas)?


Apakah kita masih percaya bahwa senioritas adalah simbol kebijaksanaan, atau justru ia menjadi penghalang bagi inovasi dan kesetaraan di lingkungan kampus? Di tengah dinamika kehidupan kampus yang terus berkembang, senioritas sering kali menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, senioritas dianggap sebagai tradisi yang mengakar kuat, memberikan struktur dan bimbingan bagi mahasiswa baru. Namun, di sisi lain, senioritas juga sering kali dipandang sebagai penghalang yang menciptakan ketidakadilan dan kesenjangan antara senior dan junior. Di Universitas Hasanuddin (Unhas), fenomena ini menjadi sorotan, terutama dalam lembaga kemahasiswaan, di mana perdebatan mengenai relevansi dan dampak senioritas terus bergulir.

Menyebut senioritas sebagai tradisi legendaris di kampus rasanya seperti menyebut dinosaurus masih jaya di era smartphone: sesuatu yang berakar kuat namun mulai dipertanyakan relevansinya di zaman modern. Di Universitas Hasanuddin (Unhas), khususnya di lembaga kemahasiswaan, fenomena ini tidak kalah kontroversial—ada yang menganggapnya sebagai fondasi organisasi, ada pula yang menilai sebagai jerat tak berwajah yang menghambat kesetaraan dan kreativitas. Senioritas di lingkungan kampus, khususnya Universitas Hasanuddin (Unhas), sering kali menjadi topik perdebatan yang cukup hangat, terutama dalam ranah lembaga kemahasiswaan. Tradisi senioritas yang mengakar dianggap sebagai salah satu struktur organisasi yang berperan dalam mengatur dinamika kehidupan mahasiswa, tetapi sekaligus menimbulkan permasalahan terkait kesetaraan perlakuan antar anggota. Melalui pandangan dari beberapa narasumber yang diwakili dengan inisial D, Fayyaz, Miftah, dan Jeff, tampak jelas adanya perbedaan sikap yang mendalam terhadap keberadaan senioritas di kampus merah ini.

D, seorang aktivis lembaga kemahasiswaan yang memiliki postur tinggi dan berambut keriting, menyatakan dukungannya terhadap konsep senioritas. Menurutnya, senioritas bukan sekadar ajang pengukuhan kekuasaan, melainkan tanggung jawab moral bagi para senior untuk membimbing junior-junior mereka. “Senioritas memberikan kesempatan bagi mereka yang lebih berpengalaman untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman agar junior tidak mengulangi kesalahan yang sama,” ujar pria yang tak ingin disebutkan identitasnya itu. D menegaskan bahwa sistem ini bila diimplementasikan dengan bijak, mampu memperlancar proses transfer ilmu serta membangun ikatan yang kuat dalam organisasi kemahasiswaan. Namun, ia juga mengingatkan agar tidak ada penjajahan sikap dan harus ada komunikasi terbuka demi menjaga keharmonisan antar angkatan.

Sedangkan Fayyaz asal Fakultas Ilmu Budaya, pria yang memiliki penampilan rapi dengan kacamata bulat dan senyum ramah, mengambil posisi yang lebih netral, mengamati dari kedua sisi argumentasi tanpa condong ke dukungan atau penolakan. Fayyaz mengungkapkan bahwa senioritas ibarat pedang bermata dua yang memiliki manfaat sekaligus risiko. Di satu sisi, senioritas baik untuk memperkuat struktur dan membagikan wawasan, tetapi di sisi lain, dapat menimbulkan kesan arogan dan superioritas yang justru merugikan suasana kolegialitas dalam organisasi. Menurut Fayyaz, kunci utama adalah keseimbangan antara penghormatan terhadap senior dan pengakuan atas suara junior, sehingga semua dapat terlibat aktif dan merasa dihargai dalam setiap pengambilan keputusan.

Sementara itu, Miftah, wanita berperawakan pendek yang dikenal dengan gaya berpakaian kasual dan rambut pirang yang selalu rapi. Dan seorang kawannya lagi yakni gadis dingin dengan sapaan akrab Jeff, memiliki penampilan energik dengan gaya berpakaian yang lebih berani, sama-sama menolak keras keberadaan senioritas dalam lembaga kemahasiswaan, Unhas. Miftah secara tegas mengkritisi bahwa senioritas justru menjadi faktor penghambat kreativitas dan inisiatif mahasiswa baru. Baginya, tidak ada alasan yang rasional untuk membedakan perlakuan berdasarkan tahun masuk. “Setiap mahasiswa memiliki potensi yang sama untuk berkarya dan berkontribusi. Senioritas yang menempatkan junior dalam posisi tersisih hanya memperkuat kultur hierarki yang kaku dan tidak sehat,” tegas mahasiswi asal Fakultas Ekonomi dan Bisnis itu. Jeff pun menambahkan bahwa senioritas sering kali menimbulkan ketidakadilan perlakuan, di mana ada rasa inferior di kalangan junior yang menghambat rasa percaya diri dan produktivitas mereka. Menurut Jeff, yang dibutuhkan saat ini adalah budaya kolaborasi dan kesetaraan agar lembaga menjadi ruang berkembang yang inklusif bagi semua pihak.

Refleksi dari berbagai sudut pandang tersebut menunjukkan bahwa isu senioritas di kampus merah Unhas, merupakan perdebatan yang rumit dan multi-dimensi. Pendukung seperti D menekankan nilai pembelajaran dan tanggung jawab, sementara penolak seperti Miftah dan Jeff menginginkan egalitarianisme dan penghapusan stigma hirarkis. Fayyaz sebagai pengamat netral mengingatkan kita pada pentingnya mencari keseimbangan antara pengalaman dan inklusivitas. Kini, persoalan senioritas harus dilihat ulang sebagai sebuah tradisi yang perlu direkontekstualisasikan agar selaras dengan semangat zaman yang mengedepankan kesetaraan dan penghormatan setiap individu. Senioritas tidak seharusnya menjadi penghalang atau penghambat kreativitas, melainkan menjadi jembatan untuk memperkuat solidaritas dan pengembangan diri secara bersama-sama.

Dengan demikian, lembaga kemahasiswaan dapat menjadi wadah yang produktif, inklusif, serta menghadirkan suasana yang menghargai keberagaman sudut pandang dan potensi mahasiswa tanpa diskriminasi. Kesetaraan dalam perlakuan bukan hanya soal keadilan, tetapi juga merupakan pondasi utama bagi kemajuan bersama. Dalam konteks kampus merah, marilah kita menghapuskan praktik-praktik yang mengekang dan mulai membangun budaya yang memuliakan kolaborasi, penghargaan, dan perkembangan bersama tanpa memandang senioritas secara kaku. Hanya dengan begitu, semangat kemahasiswaan sejati akan terwujud dan lembaga kemahasiswaan dapat menjadi tempat lahirnya pemimpin-pemimpin masa depan yang bijak dan adil. Pertanyaannya kini, apakah senioritas adalah pemandu bijak yang membawa kita ke arah yang besar, apakah mungkin membangun budaya kolaborasi yang sehat tanpa menghilangkan nilai-nilai pengalaman yang dibawa oleh senior? atau sekadar penghalang yang menghalangi kita dari potensi sejati? Tentu saja, semua tergantung pada siapa yang memegang kendali—apakah itu senior yang bijak atau junior yang berani melawan arus.


Penulis: Alang

Previous 21 Mei Peringatan Reformasi: Antara Ingatan dan Pengingkaran
Next EDITORIAL: Saat Pejabat Kampus Was-Was Menghadapi Pertanyaan

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *