Pagi itu pukul 11.00 cuaca terik, jalanan senggang dari kendaraan pribadi. Sehari sebelumnya (30/4) tersebar kabar melalui pesan berantai aplikasi Whatsapp bahwa akan ramai demonstrasi di jalan-jalan kota, benar saja serikat buruh berlalu lalang, berkonvoi mengelilingi kota dipimpin sebuah mobil komando yang dihiasi pernak pernik organisasi, di belakang mobil komando itu mengikut ratusan massa bersepeda motor bernyanyi lagu Internasionale meneriakkan “Hidup Buruh” bersahut-sahutan.
1 Mei adalah momentum penting bagi sejarah perjuangan kelas pekerja. Pada 1886, lebih dari 300.000 buruh melakukan demonstrasi serentak di berbagai kota di Amerika Serikat, khususnya Chicago para buruh menuntut 8 jam kerja, hak untuk berserikat, penghapusan tenaga kerja anak, penghapusan kerja paksa dan kondisi kerja manusiawi. Beberapa tokoh serikat buruh masa itu menjadi korban, namun protes itu berbuah manis, hasilnya bisa dirasakan saat ini.
Di Indonesia, Hari Buruh mulai diperingati sejak era kolonial oleh serikat-serikat buruh kiri. Namun, setelah pemberontakan 1965, rezim Orde Baru melarang peringatan May Day karena dianggap terkait dengan komunisme. Baru pada masa Reformasi, gerakan buruh mulai hidup kembali. Lalu, pada tahun 2013, pemerintah Indonesia secara resmi menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional, atas desakan berbagai organisasi buruh.
Makassar punya titik aksi demonstrasi yang selalu ramai tiap-tiap protes, lokasinya di bawah fly over Jl. Urip Sumoharjo, lokasinya strategis dekat dengan berbagai instansi pemangku kebijakan dan lokasinya pusat kota persimpangan antara tol dan titik ramai kota.
Tak jauh dari tempat berorasi para agitator, di samping Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Makassar Selatan ada taman kecil yang tak kalah sibuknya dari para demonstran. Orang-orang ini berkumpul, berdiskusi, melapak buku, hingga melakukan lokakarya kerajinan tangan. Geliat kolektif ini menyebut diri mereka “Piknik Melawan”.

Saya menjumpai Viny di antara keramaian, perempuan berbaju kuning cerah yang sehari-hari saya kenal sebagai pemusik di duo Ruang Baca, yang popular dengan karya musikalisasi puisi sastrawan arus utama seperti puisi “terbangnya burung” karya Sapardi Djoko Damono. Keterlibatan Viny dalam piknik melawan menurutnya cara yang ia pilih untuk tetap menempatkan keberpihakannya.
“Saya senang menjadi bagian dari perlawanan. Tapi seiring usia, banyak pertimbangan untuk ikut di kerumunan orang. Dengan ada piknik melawan ini saya menegaskan bahwa saya ada di pihak teman-teman yang melawan,” tuturnya kepada saya.
Ada masanya memang berbagai isu yang direspon oleh gerakan mahasiswa terasa berjarak, beberapa orang bingung ingin terlibat melalui apa, Viny pun mengakui itu, baginya piknik melawan adalah ruang untuk menyalurkan kemarahan yang sama.
“Ternyata banyak orang yang mau ikutan gerakan melawan, Terus kita paham bahwa apa yang sedang diperjuangkan sama teman-teman. Kita harus berterima kasih gitu, karena tidak semua orang punya waktu. tidak semua orang punya tenaga untuk melakukan itu,” pungkasnya sedikit tergelak.

Ada sebotol penuh kombucha yang diseruput oleh orang-orang, saya sempat mengicip sedikit, rasanya pekat asam segar, kombucha itu diolah sendiri oleh Ria, biasanya disajikan di kedai teh miliknya, perempuan dengan topi bucket dan senyum ramah itu merupakan pemilik dari kedai teh Artani. Ria bercerita kepada saya mengenai keresahan yang ia dapati dalam menempuh perjalanan dalam kota ini.
“Selalu ada masalah yang kita temui di jalan yang bikin kita resah dengan negara ini,” celetuknya memulai.
Ria sempat menjadi pembicara dalam diskusi yang berlangsung sebelumnya, menarik baginya diskusi itu karena ramai perspektif yang ia himpun dari berbagai orang berlatar belakang beragam.
“Kayaknya dari mana-mana keresahan itu sih! Tadi di diskusi misalnya ada yang wakili mamaknya karena mamaknya masih harus kerja. Terus ada juga tadi anak petani, wakili petani. Nah dari saya sebagai pekerja kreatif yang tidak ada jam kerjanya,” lanjutnya.

Bagi Ria, saat ini kondisinya sangat tidak dapat diprediksi, ledakan kapan saja bisa terjadi. Kemarahan harus terus dirawat dan langkah kecil seperti berkumpul, membicarakan dan saling bertukar keresahan harus terus dilakukan.
“Setiap kita datang bawa api api kecil sendiri yang kupikir justru api api kecil itu akan sulit dipadamkan,” tutupnya.
Reporter: Alicya Qadriyyah Ramadhani Yaras
No Comment