Hidup terus berjalan di tengah arus keseharian yang seolah tanpa henti. Rutinitas kian hari tampak seperti hafalan dan mekanis. Seseorang akan bangun dari tidurnya yang panjang, membereskan tempat tidur, bersih-bersih, mandi, dan bersiap untuk kembali bekerja meski dengan mata yang sempoyongan, seolah masih ingin terpejam menahan kantuk. Usai bekerja, seseorang akan kembali lagi ke tempat semula ia bangkit untuk memulai hidup, yakni kasur dan bantal yang paling nyaman, lalu beristirahat. Dalam satu istilah: kita sedang menghidangkan diri kita pada kapitalisme. Dalam kondisi yang paling pribadi sekalipun, kita bahkan tidak benar-benar bisa lepas dari pengaruh kapitalisme yang mengatur bagaimana kita menjalani hidup, apa yang kita inginkan, dan bagaimana kita memandang diri kita sendiri (Qorib, 2025).
Dalam kehidupan yang serba canggih dan berjalan cepat, para pekerja harus kembali melakukan rutinitas yang sama setiap hari. Bekerja pada orang lain, lalu menerima upah setelah sebulan penuh mencurahkan tenaga kerja pada pabrik. Kita akan menjadi orang yang rela mengantri panjang untuk mengetuk pintu berlabel kantor atau pabrik. Sekali pintu diketuk, gagang pintu akan membuka diri lebih lebar, mempersilakan kita masuk pada kehidupan yang lebih besar. Kita tidak bisa keluar kembali setelahnya. Begitu pula dengan pelajar atau apa pun sebutannya, saat matahari sudah menyiram cahayanya dari ufuk timur, para pelajar harus kembali siap diceramahi di dalam kelas. Suara-suara yang kerap kali sangat memekakkan telinga.
Dalam banyak kasus, materi yang diajarkan kadang tidak lagi relevan dengan kenyataan di luar kelas. Saya jadi teringat satu ungkapan dosen saat saya mempresentasikan hasil penelitian dalam ujian tutup, katanya, “Tidak ada mi itu kelas-kelas sosial, apalagi petani yang tinggal di perdesaan.” Saya langsung mengehembuskan nafas, sedikit kencang, perlahan-lahan semakin dalam. Bagaimana mungkin seorang pengajar yang punya gelar berderet tampak sangat keras kepala untuk mengakui kenyaatan tersebut. Namun itulah kenyatannya, mungkin pada bentuk yang lain, beberapa pengajar sangat senang menutup mata di atas pucuk ilmu pengetahuan yang mereka bangga-banggakan dan kita (pelajar) seperti dipaksa mengikuti jejak yang sama. Membantah sama seperti bunuh diri. Pada kehidupan itulah setiap pilihan kita, meskipun tampak bebas, sesungguhnya telah diatur oleh kekuatan yang lebih besar.
Sebagai seseorang yang telah dibentuk dalam tubuh organisasi Pencinta Alam (katanya), gunung selalu menjadi rumah atau sekolah untuk pulang (jika tidak terkesan berlebihan) atau mungkin rehat sejenak dari rutinitas yang semakin membosankan. Setidaknya, di gunung saya masih bisa memungut sisa-sisa arti hidup yang jika dipikir dalam-dalam menjadi semacam kerumitan tersendiri. Sesederhana, sejumlah makanan saat berada di hutan merupakan sebuah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, tidak ada alasan yang membuat makanan tersebut dilihat sebagai “keinginan” semata jika tidak ingin mati. Sama seperti air, dalam kondisi normal maupun darurat, tidak ada yang akan berani membuangnya sia-sia. Seperti itulah kehidupan seharusnya bergulir. Pemenuhan kebutuhan dasar (makan dan minum) membuat kita selalu bertahan hidup. Alih-alih demikian, beberapa orang justru menjadi sangat rakus untuk menguasai dan mengontrol segala sumber penghidupan yang tersedia, termasuk di gunung sekalipun saat ini.
Seiring zaman, saya mengamati fenomena yang belakangan marak di setiap pegunungan yang penuh oleh pendaki gunung. Dari pengamatan langsung, jika dilihat dari kelas sosial, saya menjumpai kelompok yang gandrung melakukan aktivitas naik gunung dewasa ini adalah mereka yang lokasi kelasnya sebagai “kelas menengah” ke atas. Hal ini terbukti dari berbagai peralatan yang dapat dengan mudah dijumpai ketika melakukan pendakian. Bagi kebanyakan pendaki, gear dan peralatan yang dikenakan sebetulnya secara tidak sadar telah merepresentasikan individu-individu yang menegaskan status kelas sosial tertentu, di samping pertimbangan mengenai keamanan dan kenyamanan. Hanya saja fenomena yang menampak belakangan ini, membuat para pendaki gunung justru terbelah dalam putaran “adu brand” semata tanpa mengetahui fungsi atau fitur-fitur yang tersedia pada gear yang dimiliki. Istilah “pendaki sultan” perlahan-lahan mulai sering didengungkan. Belum pernah saya mendengar istilah berlawanan seperti “pendaki tidak sultan”. Padahal, dalam perjalanannya, dahulu pendaki gunung identik dengan perawakan yang kusam dan dekil.
Hal lain yang saya amati, demam naik gunung hari ini digeluti hingga lintas usia dan beragam latar belakang. Mulai dari kalangan pelajar, hingga pekerja. Dalam satu momen naik gunung, saya kerapkali mendengar ungkapan yang menyebut bahwa “uang bisa dicari, sedangkan ketenangan tidak,” Ungkapan ini membuat saya bertanya-tanya apakah mereka hidup hanya untuk membeli ketenangan. Begitupula ketika saya merefleksikan alasan-alasan yang memicu saya untuk kembali ke gunung, lagi dan lagi.
Akhirnya, saya selalu dibuat untuk memikirkan satu tajuk pertanyaan yang kerap mengganggu waktu tidur, baik ketika di kamar begitupun saat di tenda. “Alasan seperti apa yang membuat setiap orang memutuskan untuk naik gunung?,” tentu pertanyaan semacam ini tidak dapat dijawab dengan mudah seperti saat membuat kopi instan. Namun, satu hal penting membuat saya sedikit sadar. Entah berasal dari linimasa yang bersebaran maupun saat mendengar cerita beberapa orang. Tentu, ada beragam alasan. Bahkan terlampau banyak.
Tetapi, ketika mengerucutkan fenomena ini pada sistem tertentu yang saat ini sedang bekerja, saya kira akan sedikit relevan. Misal, mengapa para pekerja yang setiap hari sibuk di pabrik perusahaan tiba-tiba ingin naik gunung hingga harus mengambil cuti? Mengapa para pelajar yang sebetulnya punya tanggung jawab bersekolah atau berkuliah, tiba-tiba lari ke gunung hingga nekat untuk bolos? Dan pertanyaan lain yang bersangkutan. Alasan mereka kadang-kadang meski mungkin belum semua, selalu berangkat dan tidak jauh-jauh dari urusan mencari ketenangan, kesunyian, hingga jati diri. Atau dalam bahasa kekinian disebut healing for live. Tak jarang juga diikuti oleh keinginan “menunjukkan diri” (hal ini kerap beririsan dengan pengalaman terpinggirkan yang dialami oleh beberapa orang).
Jika demikian, saya jadi bertanya-tanya seperti apa sebetulnya kondisi setiap pekerja dan pelajar yang tiba-tiba memutuskan naik gunung itu? Apakah pabrik mereka memang tidaklah nyaman? Atau sekolah dan kampus mereka tidak lagi membuat mereka merasa hidup seperti dulu-dulu? Hingga hubungannya dengan kehidupan yang lebih luas seperti kondisi ekonomi-politik. Jangan-jangan, memang benar, setiap orang sedang mengalami sakit jiwa yang sebetulnya tidak mereka inginkan dewasa ini (hanya kemungkinan). Itulah yang membuat setiap dari kita butuh tempat (salah satunya gunung) yang dapat membuat masing-masing orang kembali mendekap kehadiran sebagai manusia yang lebih utuh, memahami kekuatan sekaligus batas-batas diri. Di pabrik, di sekolah, di kampus, atau di mana pun, boleh jadi semua sisi kemanusiaan kita telah direnggut satu per satu. Entah.
Tetapi, tentu saja demam naik gunung bukanlah fenomena yang lahir dari ruang kehampaan sosial. Sebagai fenomena yang mendadak ramai dilakukan, justru menjadikannya semacam kenyataan yang pasti memiliki rekam sejarah panjang dan perlu diurai. Jika diamati lebih jauh, kira-kira brand-brand outdoor yang dulu hanya itu-itu saja sekarang justru meledak bak bom waktu. Berderet nama produk bermunculan di pasaran, hingga masuk ke jalur pendakian. Parahnya, gear saat ini berubah wujud menjadi parameter kunci untuk mengukur jam terbang pendaki. Tidak lagi sekadar untuk menunjang aktivitas teknis, melainkan mempertegas posisi kelas-kelas sosial para pendaki gunung.
Ini menjadi sangat mengerikan tatkala beberapa rombongan pendaki gunung justru tampak semakin angkuh saat bertemu dengan orang lain, hanya karena mengenakan brand-brand terkenal dan telah menyelesaikan banyak list puncak gunung lintas pulau atau bahkan lintas negara. Nilai yang sebetulnya tidak pernah terdengar di masa lampau (sependek pembacaan saya). Gunung bukan hanya berisikan nama puncak semata, juga tidak sekadar sebagai tumpukan tanah dam bebatuan. Apa yang kita kenakan di tubuh, bahkan barang yang paling mewah sekali pun kadang kala (dalam kondisi tertentu) tidak akan banyak berguna saat seseorang berjalan sendirian dan menghembuskan nafas di tengah cuaca yang buruk. Di sanalah, segala standar hidup akan runtuh seketika. Manusia akan kembali mengusap dirinya yang telanjang. Dengan kata lain, semua akan menjadi apa adanya dan rendah hati. Namun, sepertinya belakangan, justru naik gunung kerap kali hanya membuat beberapa orang berujung pada sifat yang semakin arogan layaknya penguasa-penguasa kecil.
Di zaman modern ini, gunung berubah layaknya pasar untuk memenuhi standarisasi yang dipaksakan. Hutan yang semula menjadi tempat untuk menyelami kedirian dan isu sosial-politik seperti yang dilakukan oleh Gie dan kawan-kawan malah berubah menjadi “panggung pertunjukan” dalam banyak hal.
Bagi saya fenomena semacam ini sangat erat kaitannya dengan corak produksi kapitalisme yang menyentuh setiap relung kehidupan manusia dewasa ini. Pekerja pabrik dilucuti, siswa dan mahasiswa dihisap, dipaksa, dibuat semakin asing dan linglung pada kehidupan yang lebih dekat, mereka semua terjepit di tempat yang seharusnya bisa membuat hidup karena bekerja dan belajar. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Mereka lalu berbondong-bondong meninggalkan rumah demi satu alasan: mencari tempat baru yang lebih longgar. Itulah yang membawa masing-masing dari kita berkunjung ke gunung dalam berbagai alasan tertentu. Kengerian yang akhirnya juga merembes masuk ke dalam hutan-hutan dan gunung yang dulunya sunyi.
Referensi:
Indoprogress. 2025. Fathul Qarib: “Perjamuan Kapitalisme: Ketika Keseharian Menjadi Komoditas”.
Penulis: Yooo
No Comment