Sabtu (30/8), ratusan mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung rektorat Unhas dan di bawah jalan layang AP Pettarani. Gelombang demonstrasi ini adalah seruan tuntutan aspirasi yang selama sepekan terakhir terus menguat dengan adanya katalis dari serentetan represifitas aparat (red. anjing-anjing kapitalis) dan makin dihiraukannya suara rakyat oleh para wakil rakyat.
Puncaknya ketika pengendara ojek online (ojol) dilindas oleh mobil rantis kepolisian pada Kamis (28/8) malam di Jakarta, hingga menewaskan satu orang bernama Affan Kurniawan. Di Kota Makassar, eskalasi demonstrasi terus meningkat.
Sekitar pukul 13.00 WITA, massa aksi berkumpul di gedung rektorat Unhas. Di depan massa aksi, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Muhammad Ruslin, menyampaikan pernyataan sikap berupa dukungan terhadap upaya protes dan tuntutan massa aksi, termasuk keprihatinan terhadap kekerasan yang terjadi kepada Affan Kurniawan.
Pada pukul 14.30 WITA, massa aksi bergerak menuju ke jalan layang AP Pettarani untuk melanjutkan demonstrasi. Demonstrasi ini diisi dengan berbagai kegiatan, diantaranya pembacaan tuntutan, orasi dari berbagai elemen masyarakat, menyanyikan lagu-lagu perjuangan, sampai corat-coret dan pembakaran ban. Salah satu perwakilan dari masssa aksi, Adrian, menyampaikan delapan poin tuntutan aksi, diantaranya sebagai berikut:
1. Reprisifitas aparat: adili tersangka penabrakan dan penembakan massa aksi, serta lakukan revolusi total.
2. Evaluasi alokasi dana DPR, bukan hanya tunjangan.
3. Bara-barayya: pertahankan ruang hidup warga dari kegiatan eksploitatif.
4. Kaji lebih lanjut Pajak Bumi Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBBP2).
5. Sahkan segera Rancangan Undang-undang (RUU) Perampasan Aset.
6. Tolak program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
7. Maksimalkan pendidikan gratis.
8. Tertibkan tambang ilegal yang merusak lingkungan.
Semakin larut, suasana semakin ramai, kemarahan kolektif makin menggema. Teriakan-teriakan “Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!”, “Re-vo-lu-si!”, dan “Polisi pembunuh!” dilantangkan dengan mantap.
Salah satu pengendara ojol yang tidak ingin disebutkan namanya, mengungkapkan keprihatinannya terhadap peristiwa yang menimpa Affan Kurniawan.
“Saya sangat kecewa dengan aparat karena kita sesama manusia dan sesama pencari nafkah di jalan, dengan tega melindas teman kami di sana. Kami sangat kecewa. Padahal kami sebenarnya (pernah) percaya dengan aparat, tapi sekarang sudah tidak lagi, karena hanya berbicara kebohongan di media social,” Ujarnya.
Menanggapi unjuk rasa yang terjadi belakangan ini, Abdul Munif Ashri, S. H., M. H., seorang akademisi dari Fakultas Hukum Unhas, berpandangan bahwa gerakan ini adalah reaksi kekecewaan rakyat terhadap pemerintah. Menurutnya, hari ini banyak kebijakan yang dinilai tidak berpihak pada rakyat.
“Situasi ekonomi sulit, pengangguran di mana-mana, pajak dikerek naik dibeberapa daerah, gaji pendidik tetap rendah, tidak naik signifikan. Sementara anggota legislator menikmati tunjangan pendapatan yang fantastis. Bahkan salah seorang anggota legislator merespons kritik publik dengan umpatan “tolol”. Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terkuak problematik dengan laporan siswa dan guru keracunan. ditambah represi polisi terhadap ojek online, Almarhum Affan. Jadi ini adalah reaksi,” pungkasnya.
Munif menuturkan bahwa ekspektasi jangka panjang dari gerakan ini adalah agar amarah, aspirasi, dan animo terus dipelihara. Tuntutan politik juga harus dirumuskan lebih jelas, dan bisa direalisasikan.
“Contohnya, batalkan kebijakan kenaikan tunjangan legislator bisa dipertimbangkan. Reformasi institusi kepolisian, turunkan pajak, dan lain-lain,” ungkap Munif.
Demonstrasi ini terbilang cukup “damai” dibandingkan demonstrasi yang terjadi sehari sebelumnya, jika ukuran kedamaian dilihat dari hangusnya suatu gedung atau fasilitas umum.
“Tidak ada nyawa yang mesti ditebus dalam menyampaikan aspirasi, begitu juga agar aspirasi didengarkan,” jelas Munif.
“Secara sosiologis, pembakaran gedung legislator tampaknya merupakan tanda akan kekecawaan dan frustrasi sosial, ekonomi dan politik masyarakat. Saya tidak bisa memastikan ini organik atau tidak, tetapi pesan yang hendak dibahasakan tampaknya adalah bahwa legislator terasa tidak mewakili kepentingan rakyat. Kerusuhan adalah bahasa bagi mereka yang tidak didengarkan. Namun, jatuhnya korban jiwa dan ongkos sosial tetap tidak bisa dijustifikasi,” tambahnya.
Disisi lain, I, salah satu massa aksi, memberikan komentar akan peristiwa ini.
“Mengenai pembakaran, saya rasa itu adalah simbol dari kemarahan yang memang sudah menumpuk. Pemerintah terlalu takut jika fasilitasnya rusak, padahal mereka tiap hari dengan enaknya menyedot uang pajak rakyat tanpa ada niat sedikit pun untuk mensejahterakan (rakyat). Ujung-ujungnya, dana itu malah lari untuk kepentingan pribadi. Ironis sekali, tapi itu realitas yang terjadi hari ini,” sahutnya.
“Jika ada yang bilang aksi dua hari ini cuma luapan amarah, mungkin mereka lupa bahwa ini adalah hasil dari kebijakan pemerintah yang begitu canggih dalam memancing kemarahan. Mulai dari mahasiswa, ojol, hingga rakyat yang resah, semua serempak berteriak karena kebijakan yang tidak pernah punya hati untuk rakyat. Kami juga dengan keras mengecam tindakan keji polisi pada kasus kematian Affan Kurniawan, yang bukan hanya ditabrak, tapi juga dilindas dengan gaya yang cukup teatrikal, sebuah aksi yang tidak layak dipertontonkan dari institusi yang katanya berfungsi untuk melindungi, tapi malah berpura-pura (melindungi) dan menjadi predator yang memangsa rakyat,” tambahnya.
Demonstrasi ini menyisakan harapan utopis yang dilantangkan dalam bahasa paling optimis.
“Amarah adalah percikan kecil dari sebuah api perlawanan yang tidak akan padam dengan mudah. Berharap api perlawanan akan terus membara membakar semangat untuk memperjuangkan hak, kebebasan, dan keadilan,” ujar Rifat, salah satu massa aksi.
Hingga saat ini, gelombang protes masih menjalar di seluruh penjuru negeri. Solidaritas makin menguat di berbagai medan. Di media sosial #Wargabantuwarga semakin menggema, upaya ini agar menghindari konflik horizontal antar masyarakat.
“Semoga kedepannya Indonesia lebih maju, karena kami butuh pemimpin yang peduli dengan rakyatnya. Kami juga sangat mendukung mahasiswa karena peduli kepada warga-warga yang tidak dilihat oleh aparat dan kejaksaan yang tidak pernah turun ke jalan,” pungkas pengendara ojol penuh harap.
Reporter: Muhammad Muldan & Muhammad Ihram
No Comment