Makassar Mencekam
Beberapa aparat kepolisian dan TNI bersenjata lengkap menjaga beberapa lokasi.
Sejak pemerintah berencana menaikkan harga Bahan Bakar Minyak pada 1 April 2012, beberapa ruas jalan di Kota Makassar sesak dipenuhi oleh demonstran dan masyarakat yang menolak kebijakan tersebut. Demonstran berasal dari sejumlah kampus di Makassar, yakni Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Negeri Makassar (UNM), Universitas Negeri 45, Universitas Indonesia Timur (UIT), Universitas Muslim Indonesia (UMI), Universitas Islam Negeri (UIN), Universitas Muhammadiyah (Unismuh) dan beberapa universitas di kota anging mamiri ini.
Letupan Awal, Jalan Anarki Ditempuh
Ratusan Mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Makassar (GRM) dengan slogan “kami marah, karena kapitalisme dan negara hanya membuat masyarakat sengsara” pada 21 Maret 2012 menggelar demonstrasi di Jalan Perintis Kemerdekaan. Tepatnya di Pintu Satu Unhas. GRM yang terdiri dari Mahasiswa Unhas, UNM, UMI, STMIK dan beberapa lembaga serta kelompok gerakan di Makassar ini memulai aksi pada pukul 13.00 Wita.
Demonstrasi diwarnai dengan aksi pengrusakan mobil dinas, penjarahan tabung elpiji 3 Kilogram, pengrusakan minimarket (Alfa Mart), pembagian BBM jenis premium di SPBU yang terletak di depan Unhas dan pembakaran mobil Coca Cola.
Mobil yang mengangkut ribuan tabung gas elpiji 3 kilogram ditahan mahasiswa dan tabung elpiji dibagikan kepada masyarakat secara gratis. Aksi mahasiswa ini layaknya tokoh Robin Hood. Selain itu, demonstran juga menduduki SPBU dan membagikan puluhan liter BBM jenis premium kepada pengendara angkutan umum dan beberapa masyarakat yang menggunakan sepeda motor.
Pukul 15.30 Wita demonstrasi berakhir ricuh dengan aparat kepolisian setelah mahasiswa menahan dan membakar mobil Coca Cola. Ratusan polisi Pasukan anti Huru-hara (PHH) dari Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan dan Polrestabes Makassar diturunkan untuk membubarkan aksi tersebut. Aparat memaksa membubarkan aksi tersebut menggunakan mobil Water Cannon dengan menyemprot meriam ke arah demonstran dan menembakkan gas air mata ke barisan massa.
Tembakan gas air mata dan semprotan air tidak menyurutkan perlawanan mahasiswa. Justru mahasiswa membalasnya dengan lemparan batu dan kayu. Mahasiswa juga melakukan perlawanan dengan melempari mobil Water Cannon menggunakan molotov cocktail. Bentrokan ini berlangsung selama tiga jam. Dan berakhir pada pukul 17.45 Wita setelah aparat membubarkan diri. Akibat aksi ini, Jalan Perintis Kemerdekaan lumpuh total akibat mobil Water Cannon aparat yang menutup jalan satu jalur. Seorang mahasiswi bernama, Wini ditangkap saat bentrokan berlangsung. Wini, selaku mahasiswa ekonomi Unhas diduga membantu demonstran mengumpulkan batu. Wini membantah tuduhan aparat dengan memperlihatkan telapak tangannya yang bersih. “Aparat asal tangkap saja. Saya hanya berdiri santai tak jauh dari lokasi bentrokan, tiba-tiba aparat langsung menangkap,” kata Dia.
Saat bentrokan terjadi, puluhan orang menggunakan helm membantu aparat melempari mahasiswa. Seorang warga, Ahmad mengatakan, puluhan orang yang membantu polisi bukanlah masyarakat yang seperti diberitakan oleh media. “Saya melihat mereka datang dengan menggunakan motor dan langsung membantu polisi. Masyarakat tidak membantu polisi. Justru masyarakat mendukung apa yang dilakukan mahasiswa,” katanya.
Sementara itu, salah satu demonstran, Rudi, menilai massa yang membantu polisi adalah sekelompok orang yang disewa oleh aparat. “Sebagian dari mereka adalah intel dan sebagiannya lagi adalah preman yang dibayar polisi untuk membubarkan aksi mahasiswa,” ujarnya.
Aksi pengrusakan dan penjarahan yang dilakukan mahasiswa, menurut mahasiswa Unhas, Dirga, karena pemerintah tidak lagi mau mendengar aspirasi mahasiswa. Ia mengungkapkan, seringkali mahasiswa demonstrasi ke kantor-kantor Pemerintahan dan DPR, tapi tidak pernah didengarkan aspirasinya. “Wajar saja mahasiswa melakukan hal tersebut. Jalan anarki ditempuh mahasiswa karena mahasiswa sudah tidak percaya lagi dengan pemerintah,” ucapnya.
Pasca kejadian 21 Maret 2012 ini, kemudian memicu bentrokan di berbagai kampus di Makassar. Diantaranya Unismuh, UMI, UNM, dan UIN serta di sejumlah titik aksi mahasiswa dan masyarakat.
Karena militansi mahasiswa Makassar tidak surut oleh gas air mata dan semburan air Water Cannon aparat kepolisian, Tentara Nasional Indonesia pun dilibatkan dalam mengamankan demonstrasi. Sejumlah titik vital di Makassar, seperti Pertamina, SPBU, PLN, DPRD, kantor Gubernur dan sejumlah tempat strategis lainnya dijaga ketat oleh aparat TNI bersejata laras panjang.
Selama sepekan demonstrasi mahasiswa di depan kampus masing-masing dengan memblokade jalan dan membakar ban bekas serta membakar mobil membuat sejumlah jalan utama di Kota Makassar lengang. “Kondisi Makassar selama seminggu ini sangat menakutkan. Apalagi di jalan-jalan terlihat aparat polisi dan TNI bersenjata lengkap. Sangat mencekam,” kata Ullas, warga Makassar.
Perjuangan mahasiswa dan masyarakat menolak kenaikan BBM terus berlanjut hingga saat ini. Bahkan setelah DPR menetapkan penundaan kenaikan BBM selama enam bulan, mahasiswa dan masyarakat terus bergerak menyuarakan penolakannya. Bahkan beberapa kelompok menuntut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan Wakil Presiden Boediono untuk mundur. Karena dinilai kebijakannya selama ini tidak pernah berpihak pada masyarakat kecil. Justru semakin menyengsarakan rakyat. (Tim Caka)






April 4, 2012 - 3:53 pm
smoga dimudahkan dn dilapangkan stiap usaha dn prjuangan kawan2 atas nama rakyat…amin!!!