Mafia Tanah di Buloa
Desir ombak diantara rumah kayu, terhias damainya mentari yang disaksikan biota laut. Namun sebentar lagi suara perdamaian itu akan hilang karena si singa buas yang mengancam dan tak segan-segan untuk mencengkram.
Tak ada lagi senyum pengharapan para nelayan yang ada di pesisir Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo, Makassar. 38 kepala keluarga yang kini hanya tersisa 18 kepala keluarga terbongkar oleh kepentingan perseorangan yang bernama Jentang. Ia adalah salah seorang pemiliki lokasi perumahan yang ada di permukaan laut tersebut, yang katanya dibeli dari saudara Jumar yang merupakan penduduk kampung setempat. Namun, sebagian laut itu kini disulap menjadi daratan karena adanya sebuah prospek besar dari rencana pembangunan pelabuhan Internasional oleh Ilham (wali kota Makassar).
Salah satu penduduk setempat, Ramli (55) ayah 4 anak yang bekerja sebagai nelayan. “Berdasarkan keterangannya, pemerintah sekarang tidak beres! aturan yang saya dengar, bahwa 50 meter dari permukaan laut itu tidak boleh dibuatkan sertifikat namun nyatanya kami di usir dengan sertifikat yang dimiliki oleh pak Jentang. Sehingga saya yakin ada kerjasama antara pemerintah dengan dengan pak Jentang. Namun kami akan terus bertahan karena sudah berpuluh tahun mendiami kampung ini, meskipun kami kerap kali diteror oleh preman suruhan pak Jentang” ujar pak Ramli.
Sebagai bentuk perlawanan, mereka telah melaporkan kepihak pemerintah mulai dari kelurahan hingga kedaerah bahkan kepihak kepolisian namun tak ada respon satupun yang diberikan, tapi sejauh ini hanya KPRM (komite perlawanan rakyat miskin kota) dan Angkatan Laut Republik Indonesia yang turut membantu untuk melakukan perlawanan. (isbh)


Komentar Terbaru