Pemilu Serbia: Kemenangan Bersejarah Gerakan Mahasiswa

Pemilihan umum Serbia pada 25 Oktober menghasilkan kemenangan bersejarah bagi daftar yang diusung gerakan mahasiswa. Mereka meraih 52,45 persen suara dan 138 kursi parlemen, mengalahkan daftar Aleksandar Vucic–United Serbia yang hanya memperoleh 39,2 persen suara dan 103 kursi. Hasil tersebut mengakhiri dominasi Partai Progresif Serbia (SNS) yang berlangsung selama 14 tahun dan menandai pergantian kekuatan politik paling signifikan dalam sejarah modern negara itu.

Strategi Pengawasan dan Jaringan Relawan

Kemenangan tersebut tidak lepas dari persiapan panjang yang dilakukan gerakan mahasiswa. Menurut laporan FRANCE 24, gerakan ini mengerahkan pengawas resmi serta tim bergerak untuk mengamati proses pemungutan suara dan melaporkan dugaan pelanggaran. Mereka memantau aktivitas di dalam maupun di luar tempat pemungutan suara (TPS), termasuk wilayah rawan praktik seperti daftar pemilih paralel dan pembelian suara. Persiapan itu dilakukan selama sekitar satu setengah tahun, sejak gerakan memutuskan untuk mengajukan daftar kandidat sendiri dalam pemilu legislatif.

Petar Botoski, mahasiswa pertanian yang mendukung daftar mahasiswa, berada di Novi Sad ketika Vucic mengakui kekalahan partainya. Ia menggambarkan suasana berubah menjadi riuh ketika hasil diumumkan, sementara proses pemindahan dan penghitungan suara masih berlangsung. “Itu adalah momen yang paling menantang. Kami berharap menang, tetapi tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketika pengumuman itu datang, saya terkejut, semua orang bersorak. Saat itu, suara masih dipindahkan dan dihitung,” kata Botoski kepada FRANCE 24.

Botoski menuturkan para relawan sepanjang hari melaporkan berbagai insiden kepada pihak berwenang, termasuk temuan daftar pemilih paralel dan dugaan pemungutan suara dengan metode carousel. Dalam praktik carousel, pemilih menerima surat suara yang sudah ditandai, lalu membawa keluar surat suara kosong sebagai bukti bahwa ia telah memilih sesuai arahan. Pola semacam ini dikenal sebagai salah satu teknik kecurangan yang paling sulit dideteksi tanpa kehadiran pengawas di lapangan. Ia menyebut mereka melatih setidaknya 16.000 orang sebagai pengawas resmi, atau dua orang untuk setiap TPS, ditambah sekitar lima orang per TPS yang tergabung dalam tim bergerak. Tim tersebut bertugas mencari dugaan pelanggaran di luar TPS, termasuk intimidasi dan pembayaran kepada pemilih.

Partisipasi Meningkat, Relawan Menghadapi Kekerasan

Partisipasi pemilih mencapai 69 persen, dengan lebih dari 4,4 juta warga memberikan suara. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan partisipasi 55,5 persen pada pemilu parlemen Serbia Desember 2023. Kenaikan partisipasi ini dinilai sebagai cermin meningkatnya keterlibatan warga, terutama generasi muda, yang sebelumnya banyak merasa tidak terwakili oleh partai-partai mapan. Dampaknya terasa langsung pada cara pemilu diawasi: jaringan relawan berusaha membuat dugaan pelanggaran lebih mudah terlihat dan dilaporkan, bukan hanya terungkap setelah pemungutan suara selesai. Namun, pengawasan itu juga membawa risiko nyata bagi mereka yang berada di lapangan.

Janko Sikosek, anggota kelompok Bikers with Students, ikut membantu tim bergerak. Ia menceritakan antrean sudah terbentuk sebelum TPS dibuka dan dirinya menunggu satu setengah jam untuk memilih. Setelah itu, ia bergabung dengan tim pengawas di Voždovac. Di wilayahnya, terdapat 14 tim bergerak yang masing-masing terdiri dari tiga orang. Menurut Sikosek, salah satu tim menemukan lokasi yang diduga menjadi pusat pembelian suara di Ovča, utara Beograd. Seorang anggota tim dipukul di kepala, sementara dua lainnya melarikan diri dan mobil mereka terjebak. Sikosek menyebut beberapa anggota kelompoknya terluka ketika membantu mengeluarkan tim tersebut, satu orang terkena lemparan batu di kepala dan seorang lainnya mengalami patah lengan.

Insiden lain juga dilaporkan. Di Pančevo, sekelompok pria bertopeng menyerang pengawas pemilu dari daftar mahasiswa dengan perangkat piroteknik, dan beberapa orang dilaporkan terkena pukulan di kepala. Seorang pengamat dari CRTA, lembaga pemantau demokrasi Serbia, juga disebut mengalami pelecehan di Zemun. Di dalam TPS, Marko, mahasiswa di Novi Sad yang bertugas sebagai pengawas resmi, melaporkan ketegangan antara pengawas SNS dan pendukung daftar mahasiswa. Ia mengatakan pengawas SNS mencoba menghalangi sebagian pemilih muda dengan alasan wajah mereka tidak mirip dengan foto pada kartu identitas—tuduhan yang kerap digunakan untuk mempersoalkan hak pilih warga muda.

Gerakan mahasiswa sendiri muncul setelah kanopi stasiun kereta di Novi Sad runtuh pada 1 November 2024 dan menewaskan 16 orang. Tragedi itu memicu demonstrasi nasional yang menyoroti dugaan korupsi dalam proyek infrastruktur. Gerakan yang awalnya tidak berpihak pada partai mana pun kemudian memperoleh dukungan luas dan memutuskan mengajukan daftar kandidat sendiri, dengan memilih orang-orang yang dinilai berkualifikasi dan belum memiliki pengalaman politik melalui proses demokratis di lingkungan universitas. Model seleksi kandidat semacam ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pemilih yang jenuh dengan politik dinasti dan elit partai.

Hasil pemilu memberi gerakan itu mandat besar di parlemen, sementara laporan dugaan pelanggaran dan serangan terhadap pengawas menunjukkan ketegangan yang menyertai proses pemungutan suara. Bagi banyak pengamat, kemampuan jaringan relawan mendokumentasikan insiden secara cepat menjadi faktor yang membedakan pemilu kali ini dari pemilu sebelumnya. Botoski menegaskan keyakinannya, “Pelacakan kecurangan pasti berdampak pada hasil.” Kini perhatian publik Serbia beralih ke tahap berikutnya: bagaimana mandat besar itu digunakan, dan apakah mekanisme pengawasan warga akan terus dipertahankan sebagai bagian dari budaya demokrasi negara tersebut.

Penulis