Pelatih kepala Timnas Indonesia, John Herdman, menyambut dengan antusias kembalinya Liga Putri Indonesia yang kembali bergulir setelah sempat terhenti sejak 2019. Ia hadir langsung dalam laga pembukaan kompetisi di Stadion Madya Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu, ketika Persija Jakarta Women menghadapi FC Bekasi City Women. Kehadiran Herdman bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk perhatian seorang pelatih yang telah lama terlibat dalam perkembangan sepak bola putri di berbagai negara.
Momen Bersejarah bagi Sepak Bola Putri Nasional
Bagi Herdman, bergulirnya kembali kompetisi sepak bola putri nasional merupakan momen yang penting sekaligus membangkitkan kenangan atas perjalanan kariernya. Ia mengaku pernah menyaksikan langsung bagaimana liga sepak bola putri di Kanada dan Selandia Baru dimulai dari titik nol, lalu tumbuh menjadi kompetisi yang diperhitungkan. Melihat proses serupa terjadi di Indonesia, menurutnya, adalah sesuatu yang menggembirakan dan layak dirayakan bersama.
“Ini malam yang besar untuk menyaksikan pertandingan perdana sekaligus menjadi bagian dari perayaan. Saya pernah melihat liga sepak bola putri di Kanada dan Selandia Baru dimulai, dan melihat hal serupa malam ini merupakan sesuatu yang menggembirakan,” ujar Herdman.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kehadirannya di laga pembuka bukan hanya soal dukungan moral, tetapi juga bentuk pengakuan bahwa kompetisi domestik merupakan fondasi penting bagi kemajuan tim nasional. Tanpa liga yang berjalan secara rutin, para pemain putri kehilangan ruang untuk bertanding secara kompetitif, mengasah kemampuan, dan menunjukkan kualitas mereka di level nasional. Selama bertahun-tahun, keterbatasan ajang menjadi salah satu kendala utama dalam pembinaan sepak bola putri di Indonesia.
Herdman sendiri memiliki rekam jejak yang kuat dalam sepak bola putri. Ia pernah menangani tim nasional putri Selandia Baru dan Kanada. Bersama Selandia Baru, ia mengantar tim itu tampil dalam Piala Dunia Putri 2007 dan 2011, serta Olimpiade Musim Panas 2008. Pengalamannya berlanjut di Kanada, di mana tim yang ia latih meraih medali emas dalam Pesta Olahraga Pan Amerika 2011 dan dua medali perunggu Olimpiade, masing-masing pada 2012 dan 2016.
Kualitas Permainan Akan Tumbuh Seiring Kesinambungan Kompetisi
Bekal pengalaman itu membuat Herdman menilai perkembangan kompetisi putri dari sudut pandang seorang pelatih yang pernah menyaksikan prosesnya di beberapa negara. Ia meyakini kualitas permainan bukanlah sesuatu yang muncul seketika, melainkan hasil dari kesempatan yang diberikan kepada para pemain untuk terus bertanding dan berkembang dari musim ke musim.
“Saya rasa, karena saya telah terlibat dalam sepak bola putri selama sebagian besar karier saya, saya bisa melihat kualitas yang ditampilkan di lapangan. Kualitas itu akan terus berkembang seiring waktu,” kata Herdman, yang baru saja mengantarkan Indonesia juara FIFA ASEAN Cup 2026.
Pandangan tersebut sejalan dengan logika pembinaan olahraga secara umum. Kompetisi yang berjalan konsisten memberi pemain ritme pertandingan, meningkatkan kedewasaan taktik, serta mendorong klub untuk memperbaiki fasilitas dan kualitas pelatihan. Sebaliknya, kompetisi yang terputus-putus membuat proses pembinaan kehilangan momentum, terutama bagi pemain muda yang membutuhkan jam terbang sebanyak mungkin pada usia emas perkembangan mereka.
Musim ini diikuti enam klub, yaitu Garudayaksa FC, Persita, Persikad, Dewa United Banten FC, Persija Jakarta, dan FC Bekasi City. Mereka akan menjalani format triple round robin, sehingga setiap klub bertemu satu sama lain sebanyak tiga kali. Fase reguler dijadwalkan berlangsung hingga 30 Januari 2027, kemudian kompetisi berlanjut ke semifinal, perebutan tempat ketiga, lalu laga puncak. Format tersebut memberi klub rangkaian pertandingan berulang untuk menguji konsistensi dan memperlihatkan perkembangan tim sepanjang musim.
Kembalinya liga membawa arti yang lebih luas daripada sekadar hadirnya jadwal pertandingan. Klub mendapat panggung kompetitif untuk membangun identitas dan menarik perhatian publik, sementara pemain memiliki ruang untuk menunjukkan kemampuan di level nasional. Bagi pelatih tim nasional, liga yang berjalan baik menjadi ajang observasi yang berharga untuk memantau performa pemain secara berkelanjutan, bukan hanya mengandalkan pertemuan sesaat di pemusatan latihan.
Harapan Pribadi Herdman untuk Putrinya
Antusiasme Herdman tidak berhenti pada pengalaman profesional. Ia mengaitkan kebangkitan liga dengan harapan keluarganya sendiri: suatu hari, putrinya bisa merasakan bermain sepak bola di Indonesia.
“Saya memiliki seorang putri. Saya berharap suatu hari nanti dia bisa datang dan bermain di Indonesia,” tutur dia.
Pernyataan itu memberikan dimensi personal pada perjalanan Liga Putri Indonesia. Bagi Herdman, liga bukan hanya proyek jangka pendek, melainkan bagian dari ekosistem yang ia harapkan terus bertahan dan tumbuh, sehingga generasi berikutnya memiliki tempat untuk mengejar mimpi di lapangan. Hal senada tentu dirasakan banyak keluarga di Indonesia yang memiliki anak perempuan dengan minat besar terhadap sepak bola namun selama ini menghadapi keterbatasan wadah kompetitif.
Pertandingan pembukaan di Jakarta menandai dimulainya perjalanan musim ini. Kini perhatian tertuju pada bagaimana enam klub menjalani fase reguler yang panjang, siapa yang mampu menjaga konsistensi hingga awal 2027, dan siapa yang akhirnya melaju ke semifinal sebelum perebutan gelar pada akhir kompetisi. Jika liga ini mampu berjalan sesuai rencana, ia berpotensi menjadi tonggak penting bagi masa depan sepak bola putri Indonesia.
