PSG Hantam Man City 4-2, Hargreaves Sebut Les Parisiens Sulit Dibendung

Paris Saint-Germain (PSG) tampil menggila dengan mencetak tiga gol pada babak pertama di Etihad Stadium, lalu pulang membawa kemenangan 4-2 atas Manchester City. The Citizens sempat berusaha mengejar ketertinggalan, tetapi tim asuhan Luis Enrique tetap menemukan cara untuk menjaga jarak hingga peluit akhir berbunyi.

Laga yang berlangsung pada Kamis (15/10/2026) dini hari WIB itu sekaligus memperkuat penilaian mantan pemain City dan Manchester United, Owen Hargreaves, yang menilai PSG sedang dalam kondisi sulit dihentikan. Menurutnya, skuad besutan Enzo Maresca tak mampu membendung laju klub asal Prancis tersebut sepanjang pertandingan.

Dominasi PSG di Babak Pertama

Desire Doue, Ousmane Dembele, dan Vitinha membawa PSG unggul tiga gol sebelum turun minum. Ketajaman ketiganya menjadi fondasi kemenangan yang membuat tuan rumah harus bekerja keras sepanjang sisa pertandingan. City baru mampu membalas melalui Erling Haaland pada menit ke-53, namun Maghnes Akliouche langsung memperlebar keunggulan PSG pada menit ke-63. Haaland sempat mencetak gol keduanya pada menit ke-75, tetapi itu tidak cukup untuk membalikkan keadaan.

City sebenarnya masih menjaga harapan ketika gol kedua Haaland memangkas selisih. Namun PSG tak kehilangan kendali permainan setelahnya. Pada menit ke-90, Ferran Torres mendapat kesempatan emas menambah gol dari titik penalti, tetapi eksekusinya gagal. Momen itu menjadi pukulan terakhir bagi tuan rumah yang gagal memanfaatkan peluang terbaiknya di akhir laga.

Efektif meski Kalah dalam Jumlah Tembakan

Catatan UEFA menunjukkan City melepaskan 25 tembakan, sepuluh lebih banyak daripada PSG. Penguasaan bola pun sedikit lebih besar di pihak tuan rumah, yakni 52 persen berbanding 48 persen. Secara statistik, City tampak lebih agresif dan lebih sering mengancam pertahanan lawan.

Namun angka-angka itu tak berujung pada keunggulan di papan skor. PSG jauh lebih klinis dengan mengubah peluang menjadi empat gol, sementara City harus mengejar sejak tertinggal tiga gol di babak pertama. Perbedaan paling nyata di Etihad Stadium terletak pada ketajaman penyelesaian akhir. City lebih sering menciptakan peluang, tetapi PSG memaksimalkan setiap kesempatan dan mampu merespons cepat setiap kali tuan rumah mencetak gol.

Kemenangan tersebut datang setelah PSG lebih dulu mengalahkan Le Mans 3-1 di Ligue 1. Lucas Beraldo membuka skor lewat penalti pada babak pertama, sebelum Le Mans menyamakan kedudukan melalui Louis Mafouta sembilan menit setelah jeda. Khvicha Kvaratskhelia, yang masuk setelah babak pertama, mencetak gol pada menit ke-61, dan Akliouche memastikan kemenangan tujuh menit berselang.

Modal Kepercayaan Diri Menuju Jadwal Padat

Hasil atas Le Mans itu menjadi kemenangan ketiga beruntun PSG setelah awal musim yang lambat. Klub asal Paris tersebut naik ke posisi kelima di klasemen Ligue 1, sementara Luis Enrique memilih mengistirahatkan beberapa pemain utama dalam laga liga tersebut. Kvaratskhelia masuk dari bangku cadangan dan langsung memberi dampak nyata, menunjukkan kedalaman skuad yang dimiliki PSG musim ini.

Rotasi yang dilakukan Luis Enrique dinilai berhasil menjaga kebugaran pemain jelang pertandingan besar melawan City. Keputusan tersebut terbukti tepat karena PSG tampil lebih segar dan tajam ketika menghadapi lawan sekelas Manchester City. Konsistensi performa ini menjadi modal penting bagi Les Parisiens untuk menghadapi jadwal padat di kompetisi domestik maupun Eropa.

Tekanan Baru bagi Manchester City

Kemenangan ini juga menambah tekanan pada City. Menurut bahan pertandingan, klub berjuluk The Citizens itu tengah menghadapi sorotan setelah komisi independen Premier League menyatakan klub melanggar aturan pengeluaran. City membantah tuduhan tersebut dan telah mengajukan banding. Pertemuan melawan PSG menjadi laga kandang pertama mereka sejak kesimpulan komisi itu diumumkan pada akhir September.

Dalam konteks itulah hasil di Etihad Stadium menjadi penting bagi kedua tim. Bagi PSG, kemenangan ini adalah bukti nyata bahwa efektivitas di depan gawang bisa mengalahkan dominasi statistik. Empat gol dari 15 tembakan menjadi gambaran jelas, terlebih dengan penalti Ferran Torres yang gagal pada menit ke-90. Sementara bagi City, kekalahan ini menimbulkan pertanyaan besar tentang ketajaman lini depan dan stabilitas tim di tengah tekanan di luar lapangan.

Ke depan, PSG tampaknya semakin percaya diri menjalani kompetisi Eropa maupun domestik dengan modal kemenangan meyakinkan atas salah satu klub terkuat dunia. Sebaliknya, City dituntut segera berbenah agar sorotan soal performa dan masalah regulasi tidak mengganggu konsistensi mereka. Laga ini menegaskan satu hal: ketika PSG bermain klinis, mereka menjadi tim yang benar-benar sulit dibendung, persis seperti yang dikatakan Owen Hargreaves.

Penulis