Radja Nainggolan Akui Bisa Bela Timnas Indonesia 15 Tahun

Gelandang Radja Nainggolan mengungkapkan bahwa ia berpotensi memiliki masa pengabdian hingga 15 tahun bersama Timnas Indonesia. Namun, pada masa awal kariernya, ia lebih memilih memperkuat Timnas Belgia karena tidak mengenal negara asal ayahnya tersebut. Pernyataan itu disampaikannya dalam wawancara dengan media Belgia, Nieuwsblad, yang kemudian dikutip sejumlah media olahraga nasional.

Pilihan yang Dibuat Tanpa Kedekatan dengan Indonesia

Nainggolan, yang kini berusia 38 tahun, menjalani debut bersama Timnas Belgia pada 2009. Pada periode itu, kedekatannya dengan Indonesia masih sangat minim. Ia mengaku tumbuh tanpa banyak mengenal budaya Indonesia setelah ayahnya meninggalkan keluarga ketika ia masih kecil. Kondisi tersebut membuat Indonesia nyaris tidak masuk dalam pertimbangannya saat menentukan tim nasional yang akan dibelanya.

“Saya tidak bisa bimbang soal tim nasional karena saya tidak mengenal negara itu. Budaya Indonesia tidak saya ketahui,” ujar Nainggolan, seperti dikutip dari Nieuwsblad.

Pengakuan itu menunjukkan bahwa keputusan seorang pemain untuk membela tim nasional tertentu tidak selalu lahir dari perhitungan teknis semata. Faktor keluarga, kedekatan budaya, dan pengalaman hidup sejak kecil kerap menjadi penentu yang jauh lebih besar. Bagi Nainggolan, ketiadaan ikatan emosional dengan Indonesia pada masa mudanya membuat pilihan terhadap Belgia terasa wajar dan tanpa keraguan.

Kasus pemain keturunan seperti ini bukan hal yang jarang terjadi. Banyak pesepak bola yang lahir dan besar di Eropa memiliki garis keturunan dari negara lain, tetapi tidak memiliki hubungan yang kuat dengan negara asal orang tua mereka. Tanpa pengenalan sejak dini, peluang mereka untuk memperkuat tim nasional negara asal leluhur menjadi kecil, meskipun secara regulasi mereka memenuhi syarat.

Perjalanan 2013 yang Mengubah Pandangan

Hubungan Nainggolan dengan Indonesia mulai terbentuk setelah ia datang pada 2013 untuk menjalani tur selama dua pekan. Dalam kunjungan itu, ia mendatangi sejumlah pulau, memberikan pelatihan kepada anak-anak, dan mengikuti sejumlah wawancara. Pengalaman tersebut membuatnya menikmati suasana dan gaya hidup yang ia temui, sekaligus menjadi titik awal ketertarikannya pada Indonesia.

“Hingga tahun 2013, ketika saya diundang ke sana untuk tur selama dua minggu dengan bayaran yang lumayan. Saya mengunjungi beberapa pulau kecil, memberikan pelatihan kepada anak-anak, serta melakukan wawancara di sana-sini. Itu menyenangkan, sehingga gaya hidup seperti itu mulai saya sukai,” kata Nainggolan.

Belakangan, ia juga menilai antusiasme suporter Indonesia sebagai daya tarik besar. Dalam laporan Detik Sport dan CNN Indonesia Sport yang mengutip wawancara Nieuwsblad, Nainggolan menyoroti besarnya dukungan penonton untuk pertandingan Timnas Indonesia, termasuk saat menghadapi Vietnam atau Irak. Detik Sport mengutip pernyataannya bahwa laga seperti itu dapat dihadiri hingga tujuh puluh ribu penonton.

Perbedaan pengalaman antar pemain keturunan turut membentuk cara pandangnya sekarang. Nainggolan menyinggung dukungan komersial yang diterima sejumlah pemain yang membela Indonesia, lalu membandingkannya dengan situasi pemain internasional yang bermain di level klub muda di Eropa. Keterangan itu disampaikan sebagai pandangan pribadinya dalam wawancara, bukan gambaran menyeluruh tentang kondisi semua pemain.

Penyesalan yang Datang Belakangan

Nainggolan juga melihat peluang membela Indonesia dari sisi masa depan setelah karier bermainnya berakhir. Menurut laporan Detik Sport, ia merasa sorotan dan popularitas di Indonesia dapat memberi manfaat bagi citra serta kehidupan setelah gantung sepatu. Ia mengakui baru memandang kemungkinan itu dengan cara berbeda setelah perjalanan internasionalnya bersama Belgia berakhir.

“Saya sebenarnya bisa memiliki karier selama 15 tahun sebagai pemain internasional Indonesia,” tutur Nainggolan.

Angka 15 tahun itu menggambarkan kemungkinan yang ia bayangkan, bukan catatan karier yang benar-benar terjadi. Faktanya, ia memilih Belgia dan membangun rekam jejak bersama tim nasional negara tersebut. Kisahnya memperlihatkan bagaimana kedekatan keluarga, pengalaman langsung, dan waktu dapat memengaruhi pilihan seorang pemain.

Bagi sepak bola Indonesia, pengakuan itu menyoroti pentingnya membangun hubungan dengan pemain keturunan sejak dini, sebelum keputusan internasional mereka terbentuk. Antusiasme suporter dan perhatian terhadap pemain menjadi bagian dari daya tarik yang ia akui, meski hal itu tidak mengubah pilihan yang telah dibuatnya. Dalam wawancara yang dikutip berbagai media, Nainggolan kini menilai peluang masa lalu itu dari sudut pandang berbeda, dan perhatian berikutnya tertuju pada bagaimana sepak bola Indonesia terus menjaga daya tarik tersebut bagi generasi pemain berikutnya.

Penulis