Perpisahan Messi: Laga Terakhir Legenda Timnas Argentina

Lionel Messi secara resmi mengakhiri perjalanannya bersama Tim Nasional Argentina. Momen emosional itu terjadi dalam laga persahabatan melawan Benin yang berakhir dengan kemenangan 3-0 untuk Argentina di Estadio Mas Monumental, Buenos Aires. Pertandingan tersebut menandai penampilan ke-208 sekaligus yang terakhir bagi Messi, yang kini berusia 39 tahun, dan mengukuhkan pengumuman pensiun internasional yang ia sampaikan pada akhir Agustus 2026 setelah final Piala Dunia 2026 kontra Spanyol.

Laga Terakhir sang La Pulga

Sejak awal pertandingan, suasana haru sudah terasa menyelimuti stadion. Pada menit ke-10, wasit Fernando Vejar menghentikan pertandingan sejenak untuk memberi kesempatan kepada sekitar 85.000 suporter yang memadati stadion memberikan standing ovation kepada sang ikon dengan nomor punggung 10. Di kota kelahirannya, Rosario, sebuah jersey raksasa berukuran 30 meter bahkan diterbangkan menggunakan helikopter sebagai bentuk penghormatan kepada pemain yang dijuluki La Pulga tersebut. Momen perpisahan ini digaungkan dengan slogan “AD10S – Farewell”, sebuah penghormatan terakhir untuk karier internasional yang telah berlangsung lebih dari dua dekade.

Setelah jeda, Argentina mulai membuka keunggulan. Nicolas Otamendi mencetak gol pada menit ke-48 setelah menerima umpan sepak pojok dari Messi. Gol itu terasa memiliki makna ganda, karena Otamendi yang berusia 38 tahun juga memutuskan pensiun dari tim nasional pada malam yang sama. Tidak lama berselang, tepatnya pada menit ke-61, Messi kembali memperlihatkan kualitas magisnya dengan memberikan asis kedua dari luar kotak penalti yang berhasil dikonversi oleh Nico Paz menjadi gol, sehingga kedudukan berubah menjadi 2-0. Puncak emosi terjadi pada menit ke-71 ketika Messi sendiri mencetak gol melalui tendangan penalti yang mengoyak jala atas gawang Benin. Gol itu merupakan gol internasionalnya yang ke-126. Setelah mencetak gol, Messi terlihat mencium logo AFA di jersey-nya, sebuah gestur yang penuh makna dan disambut gemuruh suporter.

FIFA telah mengonfirmasi bahwa pertandingan tersebut merupakan penampilan resmi terakhir Messi bersama Timnas Argentina. Sepanjang karier internasionalnya, Messi menutup perjalanan dengan catatan 126 gol, 69 asis, dan 208 penampilan. Ia memegang rekor sebagai pencetak gol terbanyak sekaligus pemain dengan caps terbanyak untuk Argentina. Lebih dari itu, Messi juga tercatat sebagai satu-satunya pemain yang memulai tiga final Piala Dunia, yakni pada edisi 2014, 2022, dan 2026. Pencapaian ini menegaskan posisinya sebagai salah satu pesepak bola terbesar sepanjang sejarah, tidak hanya bagi Argentina tetapi juga di pentas dunia.

Momen Penuh Air Mata dan Penghargaan

Rangkaian momen emosional terus berlanjut sepanjang pertandingan. Messi terlihat menitikkan air mata sejak berada di dalam bus tim, dan tangisnya semakin deras saat lagu kebangsaan Argentina berkumandang, ditemani pelatih Lionel Scaloni yang turut terharu. Sebuah jersey raksasa bertuliskan “Gracias” dengan nomor punggung 10 dibentangkan di tengah lapangan, menjadi simbol rasa terima kasih kepada pemain yang telah mengharumkan nama bangsa selama lebih dari dua dekade. Setelah peluit akhir berbunyi, pertunjukan cahaya drone menampilkan sosok Messi sedang mengangkat Piala Dunia di langit Monumental, diikuti kembang api yang megah. Rekan setimnya, Enzo Fernandez, bahkan terlihat menangis di bangku cadangan, menunjukkan betapa besar arti momen itu bagi seluruh skuad Argentina.

Dalam pidato perpisahannya yang berlangsung sekitar 10 menit, Messi mengungkapkan perasaan harunya kepada publik yang telah mendukungnya sejak awal. “Jujur sulit untuk mengatakan apa pun… yang pertama aku pikirkan adalah ayahku. Adalah kehormatan besar membela jersey ini 21 tahun. Tidak akan kembali akan sangat menyakitkan. Bermain untuk Argentina adalah hal terindah yang bisa terjadi pada seseorang,” ujarnya, disambut riuh tepuk tangan dan tangis haru para suporter. Pidato tersebut menjadi penutup yang pas bagi perjalanan panjang seorang pemain yang telah menjadi simbol kebanggaan nasional. Bagi banyak orang Argentina, sosok Messi bukan hanya seorang atlet, tetapi juga sosok pemersatu yang mampu membangkitkan harapan di tengah berbagai tantangan yang dihadapi negara itu.

Meski telah pensiun dari tim nasional, karier klub Messi dipastikan akan terus berlanjut. Ia tetap berkomitmen untuk Inter Miami CF dan telah memperpanjang kontraknya hingga akhir 2028. Dengan usia yang akan mencapai 41 tahun, Messi masih menargetkan gelar Piala MLS 2026 dan berada di jalur untuk meraih penghargaan MVP MLS ketiga secara berturut-turut. “Saya suka berada di sini sepanjang hidup saya, tapi perjalanan klub terus berlanjut,” kata Messi. Pernyataan ini menegaskan bahwa sang legenda belum sepenuhnya meninggalkan lapangan hijau, melainkan hanya menutup satu babak besar dalam kariernya.

Timnas Argentina kini harus bersiap menghadapi era baru tanpa sang mega bintang. Mereka dijadwalkan akan bermain melawan Bolivia dan Burkina Faso pada jeda internasional berikutnya, dengan mengandalkan talenta muda seperti Nico Paz, Alejandro Garnacho, dan Julian Alvarez. Transisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Scaloni dan jajaran pelatih untuk menjaga konsistensi performa tim yang selama ini banyak bergantung pada kualitas Messi. Namun, warisan yang ditinggalkan Messi, mulai dari gelar juara dunia hingga mentalitas juara yang ia tanamkan, diyakini akan menjadi fondasi penting bagi generasi berikutnya. Perpisahan ini memang menyayat hati, tetapi sekaligus menjadi awal dari babak baru bagi sepak bola Argentina.

Penulis