Tim nasional Suriname kembali menjadi korban tindakan rasisme dalam laga Concacaf Nations League League A Grup B melawan Guatemala di Cementos Progreso Stadium, Guatemala City. Insiden tersebut terjadi kurang dari 13 bulan setelah kejadian serupa menimpa mereka di El Salvador, dan kini memicu tuntutan investigasi resmi kepada FIFA serta Concacaf.
Federasi Sepak Bola Suriname (SVB) dan media Amerika Serikat, USA Today, mengonfirmasi kejadian memalukan itu tak lama setelah pertandingan berakhir. Penyerang Suriname, Richonell Margaret, menjadi sasaran utama pelecehan yang kemudian berujung pada kartu merah di menit ke-63, sebuah keputusan yang dinilai kontroversial karena ia justru pihak yang menjadi korban.
Kronologi Pelecehan dan Kartu Merah Margaret
Insiden bermula pada menit ke-63, ketika Richonell Margaret menguasai bola di sisi kiri lapangan. Menurut pengakuannya setelah pertandingan, sebagian besar penonton di stadion mulai meneriakkan suara-suara monyet setiap kali ia menyentuh bola. Margaret yang emosional kemudian membalas ucapan para penggemar di tribun, sebuah reaksi yang lazim muncul dari pemain yang merasa dihina secara rasial.
Wasit Joe Dickerson dari Amerika Serikat, yang sebelumnya sempat membuat gestur “X” sebagai simbol kampanye anti-rasisme FIFA, langsung mengganjar Margaret dengan kartu merah langsung. Keputusan itu menuai kontroversi karena Margaret adalah korban pelecehan. Diskusi sengit terjadi antara wasit dan kapten Suriname, Myenty Abena, sehingga pertandingan tertunda hampir 10 menit. Tim Suriname sempat berkumpul di depan bangku cadangan dan mempertimbangkan untuk meninggalkan lapangan, namun akhirnya memilih melanjutkan pertandingan dengan 10 pemain.
Kapten Myenty Abena, mantan pemain Spartak Moscow, mengungkapkan dilema berat yang dihadapinya. “Sebagai kapten, saya dihadapkan pada keputusan sulit: Apakah kami meninggalkan lapangan dan menerima konsekuensinya, ataukah kami melanjutkan dengan 10 pemain dan menolak membiarkan rasisme mengusir kami dari permainan yang kami cintai?” tulis Abena di akun Instagram-nya, seperti dikutip USA Today. Ia menegaskan, keputusan untuk melanjutkan bukan berarti mereka menerima insiden rasisme tersebut, melainkan demi kecintaan mereka pada sepak bola, negara, dan rekan setim.
Pertandingan sendiri berakhir dengan kemenangan tipis 1-0 untuk Guatemala berkat gol Matthew Evans pada menit ke-90+6. Setelah peluit akhir, ketegangan memuncak. Kedua tim terlibat perkelahian fisik di tengah lapangan, memaksa polisi anti huru-hara turun tangan untuk memisahkan pemain, sebagaimana terekam dalam foto AP dan AFP.
Respons Manajemen Suriname dan Sikap Concacaf
General Manager Suriname, Brian Tevreden, menyatakan kemarahannya atas insiden tersebut. “Ini kedua kalinya di Amerika Tengah. Sudah terjadi di El Salvador tahun lalu, FIFA mendenda mereka. Sekarang Guatemala lagi. Mengerikan! Perilaku semacam itu tidak dapat diterima dalam sepak bola dan masyarakat. Ini bertentangan dengan nilai-nilai fair play dan rasa hormat,” ujarnya kepada USA Today dan The Sun.
Insiden serupa memang pernah terjadi pada 8 September 2025 di Estadio Cuscatlan, San Salvador, saat Suriname mengalahkan El Salvador 2-1. Ketika itu para pemain Suriname juga diteriaki rasis, yang berujung pada denda FIFA untuk El Salvador. Pola pengulangan ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai efektivitas sanksi dan konsistensi penegakan aturan anti-diskriminasi di kawasan Concacaf.
Juru bicara Concacaf, melalui pernyataan yang dikirim Selasa pagi 6 Oktober, menyatakan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari Federasi Sepak Bola Suriname mengenai dugaan perilaku diskriminatif oleh penggemar. “Concacaf menanggapi tuduhan ini dengan sangat serius dan akan menyelidiki masalah ini sesuai dengan peraturan Concacaf yang berlaku dan prosedur disipliner,” bunyi pernyataan tersebut. Namun, Concacaf belum menjatuhkan sanksi apa pun, sementara FIFA juga belum memberikan komentar resmi.
Dampak dan Konsekuensi Rasisme di Sepak Bola
Insiden rasisme di Guatemala ini menjadi sorotan serius, terutama menjelang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Utara. Data FIFA menunjukkan peningkatan signifikan dalam konten abusif di media sosial, dengan 89.000 dari 6 juta postingan mengandung konten tersebut, atau 13 kali lipat lebih banyak dibandingkan Piala Dunia 2022 di Qatar. Federasi Sepak Bola Brasil bahkan telah meminta PBB dan FIFA untuk bertindak tegas terhadap persoalan ini.
Guatemala, sebagai salah satu tuan rumah Concacaf Nations League, berpotensi menghadapi sanksi berat jika terbukti melakukan rasisme, mulai dari denda, penutupan stadion, pengurangan poin, hingga larangan bermain di kandang. Suriname, yang mayoritas pemainnya merupakan diaspora Belanda, telah dua kali menjadi korban rasisme di kawasan Amerika Tengah, menimbulkan trauma mendalam bagi para pemain dan berpotensi memengaruhi performa mereka di lapangan.
Berdasarkan Pasal 14 Kode Disipliner FIFA, tindakan rasisme dapat dikenai denda minimal 20.000 CHF atau sekitar Rp350 juta, penutupan stadion, dan pengurangan poin bagi pelanggar berulang. Mengingat insiden ini melibatkan “seluruh stadion”, Guatemala kemungkinan menghadapi sanksi berat meskipun ini merupakan pelanggaran pertama mereka. Federasi Sepak Bola Suriname (SVB) telah mengirimkan pengaduan resmi kepada FIFA dan Concacaf pagi ini, menuntut tindakan tegas untuk memastikan keadilan bagi para pemain mereka dan mencegah terulangnya insiden memalukan ini di masa depan.
Kasus ini menegaskan bahwa rasisme di sepak bola bukan sekadar persoalan perilaku individu, melainkan persoalan struktural yang membutuhkan respons institusional yang cepat dan tegas. Tanpa sanksi yang jelas serta perlindungan nyata bagi pemain korban, kepercayaan terhadap komitmen anti-diskriminasi federasi sepak bola dunia akan terus dipertanyakan.
