Skandal FIFA: Kiper DR Congo Diduga Ilegal di Piala Dunia

Dunia sepak bola internasional diguncang skandal besar setelah media-media terkemuka global, termasuk The Times dari Inggris dan The New York Times dari Amerika Serikat, membongkar dugaan kecurangan yang melibatkan FIFA. Dalam laporan yang dirilis pada Selasa (6/10/2026), kiper tim nasional Republik Demokratik (DR) Congo, Lionel Mpasi-Nzau, disebut tidak memenuhi syarat untuk tampil di Piala Dunia 2026, termasuk ketika menghadapi Inggris di babak 32 besar. Fakta ini memicu pertanyaan serius mengenai integritas kompetisi sepak bola paling bergengsi di dunia tersebut.

Berdasarkan dokumen internal yang bocor, FIFA diduga telah mengetahui status ilegal sang pemain jauh sebelum turnamen dimulai, namun tetap membiarkannya bermain. Situasi ini tidak hanya mencoreng kredibilitas badan pengatur sepak bola dunia itu, tetapi juga menyoroti dugaan standar ganda yang diterapkan dalam menangani kasus pelanggaran aturan keanggotaan pemain.

Kronologi Skandal Kiper DR Congo

Terungkapnya skandal ini berawal dari pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Atlanta, Amerika Serikat, di mana Inggris berhasil mengalahkan DR Congo dengan skor 2-1. Dua gol Harry Kane pada menit ke-75 dan ke-86 membalikkan keadaan setelah DR Congo sempat unggul lebih dulu. Dalam laga tersebut, Mpasi menjadi sorotan berkat lima penyelamatan gemilang, termasuk saat menepis tendangan Kane. Namun, belakangan terkuak bahwa kiper berusia 32 tahun yang lahir di Meaux, Prancis, itu seharusnya tidak layak tampil.

Mpasi diketahui pernah memperkuat timnas junior Prancis dari kelompok umur U16 hingga U20 dengan total 12 penampilan pada periode 2010-2011. Departemen Hukum FIFA menemukan bahwa DR Congo tidak pernah menyelesaikan dokumen permohonan penggantian asosiasi (change of association) sebagaimana diwajibkan oleh Statuta FIFA Pasal 9. Akibatnya, secara hukum FIFA, Mpasi masih terdaftar sebagai pemain Prancis. Fakta ini seharusnya membuatnya tidak dapat bermain untuk DR Congo dalam pertandingan resmi apa pun.

Investigasi FIFA disebut telah rampung pada awal 2026, jauh sebelum Piala Dunia bergulir. Dokumen internal yang bocor kepada The New York Times dan Le Monde pada 5-6 Oktober 2026 semakin menguatkan dugaan bahwa FIFA sudah mengetahui permasalahan ini sejak lama. Meski demikian, tidak ada tindakan pencegahan yang diambil untuk mencegah Mpasi tampil di turnamen akbar tersebut.

Dampak ke Nigeria dan Dugaan Konflik Kepentingan

Kasus ini membawa kerugian besar bagi Nigeria. Tim berjuluk Super Eagles itu kalah adu penalti dari DR Congo dengan skor 1-1 (penalti 4-3) pada Final Playoff Afrika 16 November 2025. Kekalahan tersebut mengubur impian Nigeria untuk lolos ke Piala Dunia 2026, sekaligus memperpanjang penantian mereka yang sudah berlangsung selama 52 tahun. Nigeria kemudian mengajukan protes resmi kepada FIFA pada Desember 2025 dengan menyertakan bukti berupa 12 laga Mpasi bersama timnas junior Prancis serta belum adanya proses pengalihan asosiasi.

Departemen Hukum FIFA sendiri menemukan bahwa DR Congo memang bersalah karena dokumen alih asosiasi belum selesai. Namun, pada Januari 2026, FIFA menolak protes Nigeria dengan alasan teknis: Nigeria dinilai telat dua jam dari batas waktu 48 jam dan tidak membayar biaya protes sebesar 1.000 franc Swiss. Akibatnya, FIFA tetap mengizinkan DR Congo bermain di babak playoff interkontinental melawan Jamaika pada Maret 2026, yang mereka menangkan 2-1 dan memastikan tiket ke Piala Dunia.

Keputusan ini memicu tudingan standar ganda, mengingat terdapat preseden ketika Yunani dan Bolivia dihukum dengan kekalahan 3-0 karena memainkan pemain ilegal. Lebih jauh, muncul dugaan konflik kepentingan yang melibatkan Presiden FIFA, Gianni Infantino, dan teman dekatnya, Véron Mosengo-Omba. Mosengo-Omba, yang menjabat Sekretaris Jenderal CAF dan baru terpilih sebagai Presiden Federasi DR Congo (FECOFA), disebut memiliki kedekatan khusus dengan Infantino sebagai teman kuliah. Kecurigaan mencuat karena investigasi terhadap Mpasi berlangsung bersamaan dengan pencalonan Mosengo-Omba.

Reaksi Global dan Aturan yang Diabaikan

Bocornya dokumen internal FIFA memicu reaksi keras dari berbagai pihak. TalkSport dan The Sun di Inggris menyoroti bagaimana Inggris harus menghadapi pemain ilegal dalam laga krusial. Federasi Sepak Bola Nigeria (NFF) dilaporkan berencana mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) dengan menuntut ganti rugi sebesar 10 juta dolar Amerika Serikat. Sementara itu, Federasi Sepak Bola Norwegia telah mengajukan dua laporan ke Komite Etik FIFA, menuduh Infantino menyalahgunakan kekuasaan. Laporan tersebut mengaitkan kasus Mpasi dengan isu lain, seperti FIFA Peace Prize, pencabutan skorsing Folarin Balogun selama Piala Dunia, serta proyek penjualan saham Piala Dunia.

Statuta FIFA Pasal 9.2 secara tegas mengatur bahwa pemain yang pernah tampil di kompetisi resmi untuk satu asosiasi, termasuk di level junior, wajib mengajukan permohonan alih asosiasi satu kali kepada Komite Status Pemain FIFA. Pemain tersebut harus memiliki kewarganegaraan negara baru dan belum pernah bermain di level senior kompetitif. Dokumen permohonan itu pun harus disetujui FIFA sebelum pemain diizinkan bertanding. Mpasi, yang memiliki paspor DR Congo dari ibunya, tidak pernah diajukan aplikasi alih asosiasi oleh federasi negaranya, sehingga secara legal ia masih dianggap sebagai pemain Prancis.

Skandal ini menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai kredibilitas dan konsistensi FIFA dalam menegakkan aturannya sendiri. Jika dugaan ini terbukti, reputasi FIFA berisiko hancur di mata publik sepak bola global, sekaligus menggoyahkan kepercayaan terhadap keadilan kompetisi Piala Dunia. Kasus ini diprediksi akan menjadi bahan investigasi lanjutan yang panjang serta dapat berdampak pada tata kelola sepak bola dunia ke depan.

Penulis