Survei LKPI: Gerindra Unggul Tipis atas PDIP

Hasil survei terbaru Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) menempatkan Partai Gerindra di posisi teratas dengan elektabilitas 17,3 persen, unggul tipis atas PDIP yang meraih 16,8 persen. Namun, angka paling menonjol justru datang dari kelompok responden yang belum menyebutkan pilihan partainya, yakni sebesar 22,5 persen.

Peta Elektabilitas Partai: Persaingan Ketat di Puncak

Survei yang dirilis LKPI menunjukkan jarak antara Gerindra dan PDIP hanya sebesar 0,5 poin persentase. Selisih yang sangat tipis ini menandakan bahwa persaingan di posisi puncak masih sangat cair dan belum ada satu partai yang benar-benar mendominasi. Di bawah kedua partai besar tersebut, NasDem mencatat elektabilitas 7,3 persen, disusul PKB dengan 6,2 persen dan Golkar dengan 6,1 persen. Selisih antara PKB dan Golkar pun terhitung tipis, sementara PKS tercatat memperoleh 5,5 persen.

Yang menarik, PAN dan PSI sama-sama meraih angka 4,3 persen, sedangkan Demokrat berada tepat di bawahnya dengan 4,1 persen. Artinya, posisi PSI yang sedikit lebih tinggi daripada Demokrat hanya berselisih 0,2 poin persentase. Sementara itu, gabungan partai di luar parlemen mengumpulkan total 5,6 persen suara. Susunan angka tersebut memperlihatkan bahwa beberapa partai berada dalam jarak yang relatif berdekatan, sehingga dinamika politik ke depan masih terbuka lebar.

Tingginya Responden yang Belum Menentukan Pilihan

Peneliti LKPI, Irwan Ardiansyah, mengungkapkan bahwa sebanyak 22,5 persen responden tidak memberikan jawaban ketika ditanya mengenai partai politik pilihan mereka. “Sebanyak 22,5 persen responden tidak memberikan jawaban,” kata Irwan, Senin (5/10/26). Besarnya kelompok tanpa jawaban ini menjadi catatan penting dalam membaca hasil survei, karena menunjukkan bahwa masih ada bagian besar masyarakat yang belum menentukan sikap politiknya menjelang kontestasi 2029.

Menurut Irwan, angka dukungan setiap partai perlu dibaca bersama dengan besarnya kelompok yang belum menyebut pilihan, bukan sebagai gambaran dukungan yang sudah menetap. Dengan kata lain, urutan elektabilitas memang memperlihatkan posisi Gerindra dan PDIP pada saat survei berlangsung, tetapi besarnya kelompok tanpa jawaban membuat persaingan masih sangat mungkin berubah. Bagi partai politik, temuan ini menjadi sinyal bahwa dukungan yang terukur belum mencakup seluruh responden yang disurvei, sehingga masih ada ruang untuk merebut hati pemilih yang belum menentukan pilihan.

Metode dan Periode Pengumpulan Data

LKPI melaksanakan survei ini pada periode 8-20 September 2026 dengan melibatkan 1.246 responden yang tersebar di 36 provinsi di hampir seluruh wilayah Indonesia. Pengambilan sampel menggunakan metode multistage random sampling, dengan tingkat kepercayaan survei sebesar 95 persen dan margin of error kurang lebih 3,1 persen. Metodologi ini memberikan gambaran tentang seberapa representatif hasil survei terhadap populasi pemilih secara keseluruhan.

Pengumpulan data dilakukan melalui dua cara, yaitu wawancara tatap muka dan panggilan telepon yang dipandu oleh pewawancara. Untuk metode telepon, LKPI memakai nomor ponsel virtual yang dihasilkan secara acak. Tingkat kontak melalui telepon seluler tercatat 35 persen dengan tingkat respons 33,1 persen. Sementara itu, wawancara tatap muka mencakup 64,4 persen dengan tingkat respons 58,3 persen. Keterangan metode ini memberi konteks tentang cara LKPI menghimpun jawaban, sedangkan margin of error menunjukkan rentang ketidakpastian yang disebut lembaga dalam surveinya.

Implikasi bagi Peta Politik Menuju 2029

Hasil survei LKPI ini menegaskan bahwa peta dukungan menjelang Pemilu 2029 masih sangat dinamis. Elektabilitas Gerindra dan PDIP yang berdekatan menunjukkan bahwa kedua partai besar tersebut belum memiliki jarak aman satu sama lain. Di sisi lain, kemunculan PSI yang sedikit melampaui Demokrat memperlihatkan pergeseran yang patut dicermati, meskipun selisihnya masih berada dalam rentang margin of error survei.

Angka 22,5 persen responden yang belum menjawab menjadi faktor kunci yang bisa mengubah konfigurasi politik ke depan. Kelompok ini merepresentasikan pemilih yang masih ragu, belum terikat, atau belum merasa terwakili oleh partai mana pun. Seiring waktu, berbagai peristiwa politik, kinerja partai, hingga isu-isu strategis nasional berpotensi menggerakkan pilihan mereka. Karena itu, hasil survei ini sebaiknya dipahami sebagai potret sementara pada satu titik waktu, bukan sebagai hasil akhir yang pasti.

Secara keseluruhan, temuan LKPI mengingatkan bahwa elektabilitas partai politik sangat dipengaruhi oleh konteks dan waktu pengukuran. Partai yang saat ini berada di puncak belum tentu mempertahankan posisinya, sementara partai di bawah dapat menyalip jika mampu menarik kelompok pemilih yang belum menentukan pilihan. Dinamika inilah yang akan mewarnai perjalanan menuju Pemilu 2029 dan membuat setiap survei menjadi penting untuk dicermati, sekaligus tetap dibaca dengan kritis bersama metodologi dan konteksnya.

Penulis