Stephen Miller resmi menjabat sebagai kepala staf Gedung Putih mulai Senin setelah ditunjuk langsung oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Penunjukan itu memicu kekhawatiran bahwa pemerintahan AS akan terus mempertahankan pendekatan keras terhadap imigrasi. Miller, yang selama ini dikenal sebagai arsitek utama kebijakan imigrasi Trump, menyatakan kesetiaan penuh kepada presiden dalam penampilan publik pertamanya setelah pengangkatan tersebut.
Loyalitas Mutlak kepada Trump
Dalam sebuah acara pada Jumat malam, Miller berdiri di samping Trump dan memuji kepemimpinan presiden di hadapan pendukung. Ia menyampaikan janji loyalitas di tengah kekhawatiran sejumlah pihak bahwa pemerintah akan semakin menegaskan agenda imigrasi yang keras dan berhaluan nasionalis. Pernyataan itu menjadi sinyal jelas bahwa Miller akan menggunakan posisinya untuk mempercepat kebijakan yang selama ini ia rancang.
“Merupakan kehormatan dalam hidup saya menjadi kepala staf Presiden Trump, dan saya bersumpah kepada Anda, dan berjanji kepada Anda, Tuan Presiden, kesetiaan mutlak, komitmen teguh, dan pengabdian total saya untuk keberhasilan Anda dan keberhasilan negara ini,” kata Miller dalam kesempatan tersebut.
Miller sebelumnya menjabat sebagai wakil kepala staf Gedung Putih sekaligus memimpin arah kebijakan imigrasi pemerintahan. Ia dikenal sebagai salah satu penasihat Trump yang paling dekat dan paling berpengaruh dalam isu tersebut. Masa jabatannya yang baru memastikan ia tetap berada di posisi kunci ketika pemerintahan menentukan langkah politik berikutnya, terutama di tengah tekanan politik yang meningkat pasca pemilu.
Konteks Politik di Balik Penunjukan
Penunjukan Miller berlangsung tak lama setelah Partai Republik mengalami kekalahan dalam pemilu paruh waktu Amerika Serikat. Hingga Sabtu pagi, Partai Republik kehilangan tujuh kursi di Senat, sementara Demokrat unggul tipis dalam dua persaingan di Alaska dan Mississippi yang belum diputuskan. Partai Republik juga kehilangan 42 kursi di DPR serta lima pemilihan gubernur. Perubahan di lingkaran inti pemerintahan pun dinilai dapat menentukan arah kebijakan imigrasi sekaligus hubungan Gedung Putih dengan Demokrat yang kembali menguasai Kongres.
Sejumlah elite Republik, termasuk JD Vance, mengaitkan kekalahan itu dengan perang Iran dan kebijakan tarif, dua unsur penting dalam agenda Trump. Namun Miller justru memuji presiden karena dianggap telah menyelamatkan dan memperkuat Partai Republik. Sikap tersebut menunjukkan bahwa Miller tetap setia pada garis kebijakan yang selama ini ia perjuangkan, meskipun partainya menghadapi tekanan elektoral yang signifikan.
Dampak penunjukan ini melampaui sekadar pergantian jabatan. Arah kebijakan imigrasi dapat memengaruhi komunitas pendatang dan kelompok pemilih yang menjadi sasaran kebijakan pemerintah. Posisi Miller memberi sinyal bahwa agenda yang ia pimpin tetap mendapat tempat di pusat pengambilan keputusan, bahkan ketika hasil pemilu menunjukkan pergeseran preferensi politik di sejumlah wilayah.
Kritik dan Keberatan dari Berbagai Pihak
Anggota Kongres dari Nebraska, Don Bacon, menilai Miller berisiko memiliki hubungan antagonistik dengan banyak pihak. Ia juga menilai kebijakan Miller membuat Partai Republik kehilangan dukungan pemilih Hispanik di Texas dan Arizona yang sebelumnya memilih Trump pada 2024. Pandangan itu mencerminkan kekhawatiran bahwa garis keras imigrasi justru dapat merugikan partai dalam jangka panjang.
Sejumlah Demokrat dan sebagian anggota Republik menyambut penunjukan itu dengan keberatan. Marlin Stutzman, anggota Kongres Republik dari Indiana, menyebutnya sebagai keputusan yang buruk dalam komentarnya kepada Politico. Sementara itu, Roger Stone dan Caroline Wren, yang dikenal sebagai sekutu atau operator Partai Republik, menggambarkan Miller sebagai penasihat utama Trump dalam masa konflik politik. Perbedaan respons ini menunjukkan bahwa penunjukan Miller memecah opini bahkan di dalam kubu pendukung presiden sendiri.
Langkah Berikutnya di Gedung Putih
Trump mengatakan ia mungkin melakukan beberapa perubahan dalam timnya, tetapi belum menyebut nama lain yang akan diganti. Dalam wawancara dengan program 60 Minutes yang dijadwalkan tayang pada Minggu, ia menyatakan menyukai kabinetnya dan menilai para anggotanya bekerja dengan baik. Saat ditanya apakah ia masih percaya kepada Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Trump menjawab iya, meskipun ia tidak secara khusus memuji Hegseth atas keberhasilan militer yang diklaimnya. Pernyataan itu muncul ketika masa depan Hegseth dipertanyakan menyusul besarnya kekalahan Partai Republik.
Miller mulai menjalankan tugas sebagai kepala staf pada Senin. Perhatian publik berikutnya tertuju pada perubahan personel yang dijanjikan Trump serta apakah pemerintahan akan meneruskan garis keras imigrasi yang selama ini dipimpin Miller. Bagi banyak pengamat, posisi Miller di kursi kepala staf akan menjadi indikator utama arah kebijakan pemerintahan Trump pada periode mendatang, khususnya dalam menghadapi Kongres yang kini dikuasai Demokrat.
