JAKARTA — Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) merilis hasil survei terbarunya yang menempatkan Partai Gerindra di posisi teratas elektabilitas partai menjelang Pemilu 2029. Dalam survei tersebut, Gerindra memperoleh elektabilitas 17,3 persen, sementara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) berhasil menembus angka 4,3 persen. Hasil survei yang dirilis pada periode September 2026 itu juga mencatat sebanyak 22,5 persen responden belum memberikan jawaban atas pertanyaan mengenai partai pilihan mereka.
Elektabilitas Gerindra Unggul Tipis dari PDIP
Hasil survei LKPI menunjukkan persaingan yang ketat di antara partai-partai politik peserta Pemilu 2029. Gerindra berada di urutan pertama dengan elektabilitas 17,3 persen, hanya terpaut tipis 0,5 poin persentase dari PDI Perjuangan yang menyusul di posisi kedua dengan 16,8 persen. Selisih yang sangat rapat ini mengindikasikan bahwa kedua partai masih berada dalam posisi bersaing ketat untuk merebut simpati pemilih menjelang kontestasi politik mendatang.
Di bawah dua partai teratas, Partai NasDem meraih elektabilitas 7,3 persen dan PKB mencatat 6,2 persen. Sementara itu, Partai Golkar berada di angka 6,1 persen, disusul PKS dengan 5,5 persen. Menariknya, PAN dan PSI sama-sama mencatat elektabilitas 4,3 persen, sedangkan Partai Demokrat berada di angka 4,1 persen. Kelompok partai lain yang dalam survei digabung sebagai partai di luar parlemen memperoleh total 5,6 persen.
Peneliti LKPI, Irwan Ardiansyah, menjelaskan bahwa sebanyak 22,5 persen responden tidak memberikan jawaban dalam survei tersebut. Menurut dia, porsi tersebut menggambarkan masih adanya responden yang belum menentukan pilihan atau belum bersedia menyebut partai yang akan mereka pilih ketika ditanya oleh pewawancara. Besarnya kelompok yang belum menjawab ini menjadi catatan penting tersendiri dalam membaca hasil survei secara keseluruhan.
Metodologi Survei dan Ruang Perubahan Pilihan
Survei LKPI ini berlangsung pada 8 hingga 20 September 2026 dengan melibatkan 1.246 responden yang tersebar di 36 provinsi di hampir seluruh wilayah Indonesia. Lembaga ini menggunakan metode multistage random sampling dengan tingkat kepercayaan 95 persen serta margin of error kurang lebih 3,1 persen. Metodologi tersebut menjadikan hasil survei ini sebagai salah satu potret awal peta kekuatan politik nasional menjelang Pemilu 2029 mendatang.
Sejumlah pemberitaan dari berbagai media juga melaporkan angka elektabilitas yang konsisten untuk sejumlah partai, termasuk Gerindra, PDIP, dan PSI dalam survei yang sama. Konsistensi angka tersebut menunjukkan bahwa posisi Gerindra di angka 17,3 persen serta PSI di 4,3 persen menjadi temuan yang relatif solid dalam kerangka hasil survei ini. Rentang waktu pelaksanaan survei pada September 2026 sejalan dengan periode pemberitaan yang berkembang belakangan ini.
Besarnya kelompok responden yang belum menjawab perlu dipahami sebagai bagian dari dinamika politik yang cair. Elektabilitas dalam sebuah survei pada dasarnya menangkap pilihan responden pada saat pengumpulan data dilakukan, bukan merupakan kepastian hasil Pemilu 2029. Karena masih terdapat 22,5 persen responden yang belum menyampaikan pilihan, angka elektabilitas partai-partai tersebut masih sangat mungkin berubah apabila sebagian dari mereka kemudian menentukan sikap atau mengubah preferensi politik mereka.
Persaingan yang Masih Terbuka Menuju 2029
Bagi partai politik, hasil survei ini memberikan gambaran awal mengenai posisi masing-masing dalam persaingan menuju kontestasi politik 2029. Jarak antara Gerindra dan PDIP yang relatif rapat menunjukkan bahwa persaingan di papan atas masih sangat terbuka. Sementara itu, kelompok partai dengan elektabilitas sekitar 4 persen seperti PSI, PAN, dan Demokrat mencatat selisih yang lebih kecil lagi, sehingga persaingan di kelompok menengah juga diprediksi akan berlangsung ketat.
Namun, survei ini tidak menjelaskan alasan responden memilih partai tertentu ataupun bagaimana pilihan mereka akan berkembang setelah periode pengumpulan data berakhir. Karena itu, angka-angka dalam survei perlu dibaca secara kritis dengan memperhatikan metode dan cakupan yang digunakan. Sampel survei memang mencakup responden di 36 provinsi, tetapi bahan yang tersedia tidak merinci hasil menurut wilayah, profil pemilih, ataupun cara wawancara yang dilakukan.
Tanpa rincian tersebut, hasil yang disajikan hanya memberikan peta elektabilitas secara umum, bukan gambaran detail mengenai perbedaan dukungan antardaerah atau antarkelompok pemilih. Pembacaan yang cermat terhadap metodologi menjadi kunci agar publik tidak menyimpulkan hasil survei secara berlebihan. Survei pada dasarnya adalah potret sesaat, bukan ramalan pasti mengenai hasil akhir sebuah pemilihan.
Dengan demikian, catatan paling tegas dari hasil survei LKPI saat ini adalah posisi Gerindra yang memimpin dengan elektabilitas 17,3 persen, diikuti PDIP yang menempel ketat di angka 16,8 persen, serta keberhasilan PSI yang menembus 4,3 persen. Sementara itu, 22,5 persen responden yang belum memberikan jawaban tetap menjadi faktor yang dapat mengubah peta persaingan politik nasional ke depan. Dinamika ini akan terus berkembang seiring berjalannya waktu menuju Pemilu 2029.
