Tim Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) turut ambil bagian dalam gelaran Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) dan Indonesia Fintech Summit and Expo (IFSE) 2026. Kehadiran tim ini bukan sekadar meramaikan pameran, melainkan untuk mendekatkan layanan Identitas Kependudukan Digital (IKD) kepada masyarakat melalui layanan aktivasi yang dibuka langsung di lokasi acara. Sepanjang kegiatan berlangsung, petugas Dukcapil tercatat melayani 201 aktivasi IKD dari pengunjung yang ingin beralih dari identitas fisik ke identitas digital.
Mendekatkan Identitas Digital kepada Masyarakat
Layanan aktivasi di lokasi acara menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Alih-alih harus datang ke kantor Dukcapil di daerah masing-masing, masyarakat yang hadir di FEKDI dan IFSE bisa langsung mengunduh, mendaftarkan, dan mengaktifkan IKD mereka dengan pendampingan petugas. Pola layanan seperti ini dinilai efektif karena memangkas jarak antara penyedia layanan dan pengguna, sekaligus memberi pengalaman langsung kepada masyarakat tentang bagaimana identitas digital bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Identitas Kependudukan Digital sendiri merupakan representasi digital dari dokumen kependudukan, termasuk Kartu Tanda Penduduk elektronik (KTP-el), yang disimpan dalam aplikasi di ponsel pengguna. Kehadirannya dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada dokumen fisik, mempermudah verifikasi data, serta mempercepat berbagai proses administrasi yang selama ini menuntut kehadiran fisik dan fotokopi berkas. Bagi masyarakat, IKD menjanjikan kemudahan ketika berurusan dengan layanan publik, perbankan, hingga layanan kesehatan.
Dalam konteks yang lebih luas, aktivasi IKD di ruang publik seperti pameran digital menjadi bagian dari strategi literasi. Banyak warga masih ragu atau belum memahami cara kerja identitas digital, terutama terkait keamanan data pribadi. Karena itu, pendampingan langsung dari petugas menjadi penting: pengunjung tidak hanya diminta mengunduh aplikasi, tetapi juga diberi penjelasan mengenai fitur, manfaat, dan langkah pengamanan yang perlu diperhatikan. Pendekatan semacam ini membantu menurunkan hambatan psikologis yang sering menjadi penyebab rendahnya adopsi teknologi baru.
FEKDI dan IFSE sebagai Ruang Kolaborasi Digital
FEKDI dan IFSE dikenal sebagai ajang yang mempertemukan regulator, pelaku industri keuangan digital, pelaku usaha rintisan, hingga masyarakat umum dalam satu ruang. Kegiatan ini biasanya diisi dengan pameran, diskusi panel, dan demonstrasi teknologi yang memperlihatkan arah perkembangan ekonomi digital nasional. Kehadiran layanan kependudukan di tengah acara bertema keuangan digital menunjukkan bahwa transformasi digital tidak berjalan sendiri-sendiri; ia bergerak paralel dengan agenda pembangunan ekosistem digital yang lebih luas.
Data kependudukan yang akurat dan dapat diverifikasi secara digital merupakan fondasi bagi banyak layanan lain. Sistem pembayaran, pembukaan rekening, penyaluran bantuan sosial, hingga layanan perpajakan membutuhkan identitas yang sah dan terpercaya. Ketika identitas kependudukan sudah terdigitalisasi, proses verifikasi dapat berlangsung lebih cepat, risiko pemalsuan dokumen berkurang, dan biaya administratif yang ditanggung penyedia layanan maupun masyarakat dapat ditekan. Inilah alasan mengapa pengembangan IKD sering dipandang sebagai infrastruktur dasar bagi ekonomi digital.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Kesenjangan literasi digital antarwilayah, keterbatasan perangkat ponsel yang kompatibel, serta kekhawatiran terhadap keamanan data menjadi beberapa hal yang perlu terus dijawab. Sosialisasi yang konsisten, kanal pengaduan yang responsif, dan jaminan perlindungan data pribadi akan menentukan seberapa besar kepercayaan masyarakat terhadap layanan ini. Tanpa kepercayaan, adopsi IKD berisiko berjalan lambat meskipun secara teknologi sudah siap.
Kehadiran tim Dukcapil di FEKDI dan IFSE 2026 dengan capaian 201 aktivasi menjadi sinyal bahwa layanan jemput bola mampu mendorong partisipasi masyarakat. Capaian itu sendiri terbilang kecil jika dibandingkan dengan jumlah penduduk, namun maknanya terletak pada pola pendekatan yang digunakan: mendekat, menjelaskan, dan mendampingi. Jika model layanan seperti ini diperluas ke berbagai acara, kampus, pasar, dan fasilitas publik lainnya, percepatan adopsi IKD berpeluang lebih besar. Ke depan, keberhasilan transformasi identitas digital tidak hanya diukur dari jumlah aplikasi yang terpasang, tetapi juga dari seberapa nyaman dan aman masyarakat merasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
