Penghitungan suara Pemilu parlemen Israel telah mencapai 93,8 persen pada Kamis (29/10), namun hasil sementara menunjukkan posisi blok petahana Benjamin Netanyahu belum aman. Di saat yang sama, dunia internasional diramaikan oleh desakan Pelapor Khusus PBB untuk Palestina, Francesca Albanese, agar Indonesia mempertimbangkan kembali keterlibatannya dalam Board of Peace (BoP), serta insiden terdamparnya lebih dari 200 penumpang kapal pesiar di Sihanoukville, Kamboja.
Dinamika Kursi Parlemen Israel
Data terbaru dari Komite Pusat Pemilihan Israel memperlihatkan bahwa blok sayap kanan dan religius yang dipimpin Netanyahu diproyeksikan mengamankan 53 kursi. Jumlah tersebut masih jauh dari ambang batas 61 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan secara mandiri. Sementara itu, blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot tercatat mengantongi 48 kursi, sehingga peta politik Israel berada dalam kondisi yang belum menemukan titik terang.
Pergeseran peta politik ini dipicu oleh tingginya partisipasi pemilih Arab yang memberikan 19 kursi bagi partai-partai di komunitas tersebut. Kondisi itu menempatkan blok oposisi pada posisi yang lebih kuat, dengan potensi raihan total mencapai 67 kursi apabila mereka mampu menjalin koalisi. Pakar menilai pembentukan pemerintahan baru akan menjadi proses yang alot akibat perbedaan nilai yang tajam di antara kubu-kubu yang bersaing, sehingga negosiasi koalisi diperkirakan berlangsung panjang dan penuh kompromi politik.
Di tengah ketidakpastian tersebut, muncul tuduhan dari kubu Netanyahu terkait dugaan pendanaan asing terhadap partai Arab, yang memicu tekanan politik lebih jauh. Meskipun Presiden Isaac Herzog menyerukan investigasi formal, ia juga mengingatkan agar tidak ada stigmatisasi terhadap komunitas Arab yang menggunakan hak suaranya secara masif dalam pemilu kali ini. Seruan itu menjadi penting di tengah tensi politik yang memanas, mengingat legitimasi proses demokrasi bergantung pada penghormatan terhadap seluruh pemilih tanpa terkecuali.
Desakan PBB kepada Indonesia
Sejalan dengan gejolak di Timur Tengah, Pelapor Khusus PBB untuk Palestina, Francesca Albanese, melayangkan desakan kepada Indonesia untuk mempertimbangkan kembali keterlibatannya dalam Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian. Dalam keterangannya kepada Reuters pada 22 Oktober, Albanese menyebut badan tersebut dibentuk oleh Amerika Serikat dan Israel, sehingga ia meragukan keterwakilan suara Palestina di dalamnya. Ia menekankan bahwa secara hukum, Israel tidak memiliki legitimasi dalam menentukan masa depan Palestina.
Menanggapi kritik tersebut, pihak BoP membantah tuduhan bahwa Palestina dikesampingkan. Pejabat BoP menyatakan bahwa administrasi sipil di Gaza dijalankan oleh Komite Nasional untuk Administrasi Gaza yang dipimpin oleh para profesional Palestina, termasuk Ali Shaath. Bantahan ini menjadi bagian dari upaya badan tersebut mempertahankan kredibilitasnya di mata komunitas internasional, meski keraguan mengenai peran serta efektivitasnya masih terus mengemuka.
Pemerintah Indonesia sendiri telah memberikan garis tegas terkait peran militernya. Kementerian Luar Negeri RI memastikan bahwa personel Indonesia hanya akan ditugaskan di wilayah Gaza untuk misi perdamaian dan tidak akan terlibat dalam operasi tempur atau konfrontasi langsung. Penegasan ini menegaskan posisi Indonesia yang tetap konsisten mendukung perdamaian tanpa melepaskan prinsip dukungan terhadap hak-hak rakyat Palestina.
Kapal Pesiar Terjebak di Kamboja
Selain isu politik, kabar mengejutkan datang dari sektor pariwisata laut. Lebih dari 200 penumpang kapal pesiar Villa Vie Odyssey terdampar di Sihanoukville, Kamboja, sejak Selasa (27/10). Perjalanan mereka terpaksa dihentikan setelah operator kapal mengalami kesulitan keuangan untuk membeli bahan bakar. Situasi ini meninggalkan para penumpang dalam ketidakpastian, jauh dari rencana perjalanan panjang yang telah mereka bayar.
Steve Skulnich, salah satu penumpang, mengungkapkan bahwa mereka diminta turun karena dana operasional perusahaan habis. Villa Vie Residences menyatakan lonjakan harga bahan bakar di Asia menjadi penyebab utamanya. Biaya bulanan per kabin dilaporkan melonjak drastis, dari US$1.800 menjadi US$8.000 akibat ketegangan geopolitik yang berdampak pada pasar energi global. Kenaikan tajam tersebut menunjukkan betapa rentannya industri pariwisata terhadap gejolak ekonomi dan konflik internasional.
Ketiga peristiwa ini memperlihatkan bagaimana dinamika politik, diplomasi, dan ekonomi global saling berkaitan erat. Ketidakpastian hasil pemilu Israel berpotensi memengaruhi arah kebijakan kawasan, sementara desakan PBB terhadap Indonesia mencerminkan besarnya perhatian internasional terhadap masa depan Palestina. Di sisi lain, insiden kapal pesiar di Kamboja menjadi pengingat bahwa dampak ketegangan geopolitik dapat menjangkau sektor-sektor yang paling tak terduga, termasuk industri wisata bahari yang selama ini bergantung pada stabilitas harga energi.
