Duel akbar final perdana FIFA ASEAN Cup 2026 antara Indonesia dan Thailand akan tersaji malam ini, Senin, 5 Oktober 2026, pukul 20.00 WIB di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta. Sebanyak 67.000 tiket yang tersedia dilaporkan telah habis terjual, menandakan antusiasme luar biasa publik menanti apakah Garuda mampu mengakhiri puasa gelar selama 35 tahun.
Pertandingan ini bukan sekadar memperebutkan trofi bersejarah. Sang juara juga berhak membawa pulang hadiah fantastis sebesar 1 juta dolar AS atau setara sekitar Rp16,3 miliar. Sejumlah stasiun televisi seperti SCTV, Indosiar, Moji TV, dan Nex TV akan menyiarkan laga secara langsung, sementara layanan streaming tersedia melalui Vidio serta kanal YouTube RANS Entertainment.
Jadwal dan Detail Siaran Final FIFA ASEAN Cup 2026
Laga puncak Divisi Satu FIFA ASEAN Cup 2026 ini merupakan edisi perdana yang digelar dalam jendela internasional FIFA, berlangsung sejak 24 September hingga 5 Oktober. Kick-off dijadwalkan tepat pukul 20.00 WIB, dengan wasit Akhrol Riskullaev dari Uzbekistan memimpin jalannya pertandingan. Sementara itu, Ko Hyung-jin dari Korea Selatan akan bertugas pada perebutan tempat ketiga antara Malaysia dan Vietnam yang berlangsung pukul 16.00 WIB.
SUGBK menjadi saksi bisu perjalanan timnas Garuda di sepanjang turnamen ini. Laga final nanti tercatat sebagai pertandingan keempat Indonesia di stadion kebanggaan tersebut. Antusiasme penggemar terlihat dari penjualan tiket yang sangat cepat. Marsal Masita, President Director PT Garuda Sepakbola, memastikan 67.000 tiket sudah ludes per 5 Oktober.
PSSI turut mengimbau penonton agar menghindari calo dan memastikan pembelian tiket hanya melalui platform resmi KitaGaruda.id dengan syarat wajib Garuda ID. Imbauan ini penting untuk mencegah penonton menjadi korban penipuan sekaligus menjaga ketertiban menjelang laga paling bergengsi di kawasan Asia Tenggara tersebut.
Perjalanan Dramatis Indonesia Menuju Final
Indonesia melangkah ke final dengan status juara Grup A setelah mengumpulkan 7 poin dari 3 laga, mencetak 11 gol, dan hanya kebobolan 2. Di bawah asuhan pelatih John Herdman, mantan arsitek timnas Kanada dan Toronto FC MLS, Garuda menampilkan performa impresif sepanjang fase grup. Kemenangan 2-0 atas Singapura pada 25 September serta hasil imbang 0-0 melawan Malaysia pada 28 September yang diwarnai bermain dengan 10 orang selama satu jam menjadi bukti ketangguhan skuad.
Momen paling dramatis terjadi saat Indonesia mengalahkan Bangladesh 9-2 pada 1 Oktober. Kemenangan besar itu terasa krusial, mengingat Malaysia bermain bersamaan dan menang 6-0 atas Singapura. Gol penentu di menit 90+7 oleh Mitchell Baker, yang mencetak 5 gol di laga tersebut, ditambah 4 assist dari Ole Romeny, memastikan Indonesia lolos sebagai juara grup berkat unggul produktivitas gol. Herdman menekankan pentingnya pemulihan dan menjaga pikiran tetap segar untuk pertarungan ini, sementara kapten Kevin Diks menambahkan bahwa tim perlu mengelola emosi dan menjaga konsentrasi lebih dari 100 menit.
Di sisi lain, Thailand mendominasi Grup B dengan 6 poin dari 2 kemenangan dan 1 kekalahan. Tim Gajah Perang membuka turnamen dengan kemenangan telak 4-0 atas Pakistan pada 26 September, lalu mengandaskan Vietnam 2-0 pada 29 September, yang mengunci tiket final lebih awal. Kekalahan 1-2 dari Filipina pada matchday terakhir tak menggoyahkan posisi mereka sebagai juara grup. Pelatih Anthony Hudson asal Inggris menyiapkan timnya dengan fleksibilitas taktik, dan Thailand juga menikmati keuntungan waktu istirahat lebih panjang berkat rotasi pemain di laga terakhir fase grup.
Dominasi Thailand dalam Rekor Pertemuan
Secara historis, Thailand memiliki rekor superior atas Indonesia. Dari 80 pertemuan yang tercatat, Thailand memenangi 38 laga (47,5 persen), sementara Indonesia hanya meraih 26 kemenangan (32,5 persen), dengan 16 pertandingan berakhir imbang. Dalam lima pertemuan terakhir, Thailand tak terkalahkan dengan dua kemenangan dan tiga hasil imbang. Bahkan, Indonesia belum pernah menang dalam tujuh laga terakhir melawan Gajah Putih. Kemenangan terakhir Indonesia terjadi di Piala AFF 2016 dengan skor 2-1.
Empat kali final Piala Tiger/AFF Cup yang mempertemukan kedua tim selalu dimenangkan Thailand. Namun, rekor kandang Indonesia lebih baik dengan 7 kemenangan, 2 imbang, dan 5 kekalahan dari 14 laga di kandang sendiri. Saat ini, Thailand menempati peringkat 93 dunia dalam Ranking FIFA, jauh di atas Indonesia yang berada di peringkat 117 dunia.
Pelatih Herdman mengakui dominasi sejarah Thailand, tetapi tetap optimistis anak asuhnya bisa membalikkan tren. Ia menilai Thailand akan tampil percaya diri karena memiliki sejarah kemenangan atas Indonesia. Bagi Herdman, laga ini menjadi langkah penting bagi para pemainnya untuk mengubah catatan tersebut.
Dengan skuad termahal di turnamen, Indonesia memiliki nilai pasar Rp396,91 miliar, jauh di atas Thailand yang bernilai Rp165,13 miliar. Ditambah momentum kemenangan besar di laga terakhir dan dukungan penuh puluhan ribu suporter di SUGBK, Indonesia berpeluang besar mengakhiri penantian gelar yang telah berlangsung selama 35 tahun. Gelar terakhir Indonesia di ajang sepak bola internasional adalah SEA Games 1991, yang ironisnya juga diraih setelah mengalahkan Thailand di final.
