Bek Timnas Indonesia, Elkan Baggott, menjadi salah satu tokoh penentu saat skuad Garuda menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. Dalam laga final yang digelar di Jakarta, Indonesia mengalahkan Thailand 4-2 melalui adu penalti setelah kedua tim bermain imbang 2-2 pada waktu normal, dengan Baggott menyumbang gol penyama kedudukan pada menit ke-116.
Gol Menit ke-116 yang Mengubah Arah Final
Gol Baggott lahir di saat Indonesia berada dalam tekanan dan waktu pertandingan terus menipis. Penyelesaian yang mengubah skor menjadi 2-2 itu tidak sekadar memperpanjang napas tim, tetapi juga membawa final menuju adu penalti. Dari titik putih, Indonesia menuntaskan tugasnya dengan kemenangan 4-2, dan Baggott termasuk di antara penendang yang sukses menjalankan tanggung jawabnya.
Peran bek berusia muda itu terasa di dua fase yang menentukan jalannya pertandingan. Pada menit ke-116, ia menyamakan kedudukan saat Indonesia tertinggal. Beberapa saat kemudian, ia kembali tampil tenang sebagai salah satu eksekutor penalti. Kombinasi itu menjadikannya salah satu figur yang paling disorot dalam pesta gelar di Jakarta, meski ia sendiri menegaskan bahwa keberhasilan tersebut bukan hasil kerja satu atau dua orang saja.
Thailand sepanjang laga mampu menjaga pertandingan tetap terbuka dan kompetitif. Namun Indonesia bertahan dalam persaingan, menolak menyerah ketika situasi tidak berpihak kepadanya, dan akhirnya memaksakan jalan menuju adu penalti. Final seperti ini menuntut ketenangan hingga momen terakhir, dan ketenangan itulah yang akhirnya membedakan Indonesia dari lawannya.
Dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/10/2026), Baggott menyampaikan rasa terima kasih kepada para suporter yang setia mendukung tim sepanjang turnamen. “Hal pertama yang ingin saya sampaikan adalah terima kasih atas seluruh dukungan dari para suporter. Saya sangat bangga menjadi orang Indonesia hari ini,” kata Baggott.
Gelar yang Diklaim sebagai Milik Seluruh Tim
Bagi Baggott, gelar juara ini bukan hanya milik sebelas pemain yang berada di lapangan. Ia secara khusus menyebut pelatih John Herdman, staf pelatih, serta orang-orang di balik layar sebagai bagian penting dari perjalanan tim menuju partai puncak. Menurutnya, persiapan menghadapi setiap laga membutuhkan banyak pekerjaan yang tidak terlihat di lapangan, mulai dari analisis, pemulihan kondisi fisik, hingga pengaturan kebutuhan tim di luar pertandingan.
Rangkaian pertandingan yang berlangsung beruntun selama beberapa hari menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain. Tim dituntut bekerja keras untuk memastikan skuad tetap siap sejak fase grup hingga final. Karena itulah, keberhasilan di partai puncak terasa sebagai buah kerja bersama, termasuk dukungan staf yang mengurus banyak hal di belakang layar agar para pemain bisa tampil dalam kondisi terbaik.
“Mereka mencurahkan begitu banyak waktu dan tenaga untuk memastikan kami bisa tampil sebaik mungkin,” kata Baggott, merujuk pada John Herdman, staf pelatih, dan tim pendukung.
Baggott juga menegaskan bahwa keberhasilan tersebut bukan milik pemain yang berada di lapangan saja. “Ini bukan hanya kemenangan kami di lapangan. Ini adalah kemenangan seluruh tim dan semua staf. Saya pikir kami baru saja menunjukkan kalau kami adalah raja Asia Tenggara,” kata dia.
Kemenangan ini terasa langsung bagi skuad dan suporter Indonesia karena gelar diraih lewat laga final yang sempat memaksa tim mengejar ketertinggalan, bukan melalui pertandingan yang berjalan nyaman. Gol pada menit ke-116 menjadi titik balik, sementara keberhasilan di adu penalti mengunci hasil 4-2. Bagi publik sepak bola tanah air, cara Indonesia meraih gelar itu menambah nilai dramatis sekaligus menunjukkan ketangguhan mental para pemain.
Pencapaian ini juga menjadi penanda penting bagi perkembangan sepak bola Indonesia. Gelar di tingkat Asia Tenggara memberi modal kepercayaan diri bagi tim untuk menghadapi kompetisi yang lebih besar, sekaligus menjadi acuan bagi pembinaan pemain muda ke depan. Sosok seperti Baggott memperlihatkan bahwa pemain yang memiliki pengalaman bermain di luar negeri dapat memberikan kontribusi nyata ketika kembali memperkuat tim nasional.
Dengan gelar ini, Indonesia menutup turnamen sebagai juara, sementara Thailand harus menerima hasil akhir yang pahit meski mampu memberikan perlawanan hingga menit-menit terakhir. Bagi Baggott dan rekan-rekannya, malam di Jakarta itu akan dikenang sebagai momen ketika kerja kolektif, ketenangan, dan dukungan suporter berbuah menjadi trofi.
