Barcelona tampil nyaris sempurna pada awal musim ini. Di bawah arahan pelatih Hansi Flick, klub asal Catalunya tersebut berhasil memenangi tujuh laga pertama LaLiga dan kini memburu rekor yang membuat bayang-bayang Real Madrid semakin terasa dekat.
Dari tujuh pertandingan yang sudah dijalani, Barcelona mengoleksi 21 poin dari 21 poin yang tersedia. Raihan itu membuat mereka unggul enam poin atas Real Madrid di puncak klasemen sementara. Jika mampu mengalahkan Getafe pada Sabtu di Stadion Spotify Camp Nou, Barcelona akan menyamai awal terbaik dalam sejarah klub di kompetisi LaLiga, menurut laporan Mundo Deportivo.
Barcelona di Era Flick Memburu Catatan Bersejarah
Start tujuh kemenangan itu bukan sekadar persoalan posisi di klasemen. Barcelona juga menunjukkan ketajaman luar biasa dengan mencetak 31 gol, atau rata-rata hampir empat gol per laga. Jumlah tersebut melampaui catatan klub pada fase yang sama musim 1950-1951, ketika Barcelona membukukan 29 gol dalam rentang pertandingan yang serupa.
Produktivitas itu terlihat jelas dari skor-skor besar yang mereka hasilkan. Barcelona mencetak tujuh gol ke gawang Racing Santander, lima gol saat menghadapi Elche, Rayo Vallecano, dan Valencia, empat gol melawan Levante, serta tiga gol ketika berjumpa Sevilla. Kombinasi kemenangan beruntun dan serangan yang terus menghasilkan gol inilah yang menjadikan laju Barcelona sebagai perhatian khusus di kompetisi domestik musim ini.
Menariknya, hanya Athletic Bilbao, yang kebobolan dua gol, tercatat memiliki pertahanan lebih rapat dalam perbandingan yang disajikan sumber. Porto disebut sebagai satu-satunya tim di liga Portugal yang juga memenangi seluruh tujuh laga awalnya. Catatan itu memberi gambaran bahwa start Barcelona bukan sekadar konsistensi biasa di kompetisi domestik, melainkan termasuk pencapaian yang jarang terjadi pada awal musim di sepak bola Eropa.
Rekor Awal Musim Masih Menyimpan Tantangan
Rekor awal terbaik Barcelona di LaLiga dipegang tim asuhan Tata Martino pada musim 2013-2014. Sumber menyebut Barcelona akan menyamai catatan tersebut jika kembali menang atas Getafe. Pada musim itu, rentetan kemenangan mereka akhirnya dihentikan Osasuna lewat hasil imbang tanpa gol pada giornata kesembilan. Barcelona masih tak terkalahkan hingga giornata ke-14, sebelum akhirnya kalah 0-1 dari Athletic Bilbao pada giornata ke-15 di Stadion San Mames.
Tim Martino kemudian menutup LaLiga dengan 87 poin, jauh dari 100 poin yang dikumpulkan Barcelona pada musim sebelumnya bersama Tito Vilanova. Fakta ini menjadi pengingat bahwa start sempurna tidak selalu berbanding lurus dengan hasil akhir di klasemen. Konsistensi sepanjang musim tetap menjadi faktor penentu dalam perebutan gelar juara.
Angka pembanding lain datang dari Real Madrid. Klub ibu kota itu pernah mencatat delapan kemenangan pada awal musim 1961-1962 dan 1987-1988. Rekor tanpa kekalahan terpanjang pada awal musim yang disebut dalam bahan sumber juga milik Madrid, yakni sembilan jornada pada musim 1968-1969 di bawah arahan pelatih Miguel Munoz. Madrid kehilangan poin pertamanya pada giornata kesepuluh setelah bermain imbang dengan Pontevedra, setelah sebelumnya mengalahkan Barcelona dalam El Clasico di Stadion Santiago Bernabeu.
Laga Getafe Bisa Membuka Jalan Rekor Kandang
Perhatian berikutnya tertuju pada Getafe. Jika Barcelona menang, mereka akan memperpanjang rentetan kemenangan kandang menjadi 23 laga. Catatan itu akan menempatkan mereka di antara lima rekor terbaik dalam sejarah sepak bola Spanyol dan membuat mereka hanya terpaut satu kemenangan dari rekor 24 kemenangan beruntun.
Rekor 24 kemenangan kandang berturut-turut itu, menurut bahan sumber, hanya pernah diraih Real Madrid pada musim 1988-1989 dan 1989-1990. Getafe belum pernah mengalahkan Barcelona saat klub Catalunya tersebut bermain di kandang, tetapi catatan masa lalu tidak menjamin hasil laga berikutnya. Sepak bola selalu menyimpan kejutan bagi tim yang tampil tanpa beban.
Untuk Barcelona, kemenangan atas Getafe akan punya dua arti langsung: menyamai awal terbaik klub di LaLiga dan memperpanjang tekanan di puncak klasemen. Selisih enam poin dari Real Madrid membuat setiap laga awal musim punya bobot lebih besar, terutama ketika produktivitas gol juga menopang laju mereka.
Pelajaran dari Musim-musim Sebelumnya
Musim lalu, Barcelona sempat kehilangan poin saat bermain imbang melawan Rayo Vallecano pada giornata ketiga, setelah menang atas Real Mallorca dan Levante. Pada musim sebelumnya, rentetan kemenangan mereka juga berhenti setelah tujuh laga, sebelum kalah dari Osasuna pada pertandingan kedelapan. Sumber mengaitkan kekalahan itu dengan susunan pemain eksperimental dan absennya sejumlah pemain inti yang sedang cedera.
Flick kini menghadapi ujian yang berbeda: menjaga tim tetap tajam tanpa menganggap rekor sebagai tujuan yang sudah pasti. Getafe menjadi kesempatan berikutnya, sementara Real Madrid masih membayangi dalam persaingan gelar. Barcelona datang dengan tujuh kemenangan, 31 gol, dan satu target yang jelas, yakni menyamai catatan terbaik klub di awal LaLiga.
Jika mampu melewati Getafe, tekanan terhadap Real Madrid akan semakin besar. Namun sejarah menunjukkan bahwa keunggulan di awal musim belum menjadi jaminan gelar. Perjalanan panjang LaLiga masih menyisakan banyak laga, dan setiap tim akan menghadapi pasang surut performa. Bagi Barcelona, menjaga momentum serta kebugaran pemain menjadi kunci agar catatan gemilang ini tidak sekadar menjadi cerita awal musim tanpa trofi di akhir perjalanan.
