Ajax Vs Atalanta: Nama Besar Tanpa Rasa Takut

Kekalahan Ajax dari Hajduk Split pada Kamis lalu membuat laga berikutnya di Conference League memiliki arti yang jauh lebih besar. Tim asal Amsterdam itu dituntut segera bangkit ketika menjamu Atalanta di Johan Cruijff ArenA pada Kamis mendatang. Namun, wakil Italia tersebut datang tanpa rasa gentar, meski Ajax masih dipandang sebagai nama besar dalam peta sepak bola Eropa.

Atalanta Datang dengan Modal Kepercayaan Diri

Atalanta akan bertandang ke Amsterdam dengan bekal kemenangan 3-1 atas Pafos di Conference League, setelah sebelumnya menelan kekalahan 3-2 dari AC Milan di Serie A. Dua hasil tersebut memberikan gambaran jelas tentang karakter tim asuhan Maurizio Sarri itu: daya serang yang tajam dan produktif, tetapi masih menyisakan pekerjaan rumah di lini pertahanan. Kombinasi inilah yang membuat duel di Johan Cruijff ArenA menarik untuk dicermati, terutama bagi Ajax yang tengah mencari momentum untuk bangkit setelah hasil buruk di laga sebelumnya.

Jurnalis Fabio Gennari, yang mengikuti perkembangan Atalanta untuk Prima Bergamo, membahas kondisi calon lawan Ajax tersebut dalam wawancara bersama Voetbalzone. Menurutnya, performa Atalanta dalam beberapa pertandingan terakhir cukup menjanjikan, kendati sejumlah pemain penting harus absen karena berbagai alasan. Penilaian ini menjadi sinyal bahwa tim Bergamo tidak datang hanya untuk bertahan, melainkan untuk menyerang dan meraih hasil positif di kandang lawan.

Nama Atalanta memang sudah lama lekat dengan sosok Gian Piero Gasperini. Ia memimpin klub asal Bergamo tersebut dari tahun 2016 hingga 2025 dan berhasil mengangkatnya dari tim yang bukan unggulan menjadi salah satu kekuatan yang diperhitungkan di Serie A serta kompetisi Eropa. Di bawah Gasperini, Atalanta untuk pertama kalinya lolos ke Liga Champions, sebuah pencapaian bersejarah bagi klub dengan sejarah panjang namun jarang menyentuh panggung tertinggi Eropa tersebut.

Era Baru Setelah Kepergian Gasperini

Puncak pencapaian Atalanta di era Gasperini datang pada Mei 2024. Ketika itu, Atalanta menjuarai Liga Europa setelah menundukkan Bayer Leverkusen dengan skor 3-0 di final yang berlangsung di Stadion Aviva, Dublin. Marten de Roon menjadi salah satu pemain yang ikut merasakan keberhasilan bersejarah tersebut. Gelar itu menjadi bukti nyata bahwa proyek jangka panjang Gasperini telah membuahkan hasil yang nyata, sekaligus menempatkan Atalanta dalam jajaran klub Eropa yang patut diperhitungkan.

Namun, setelah itu lanskap berubah. Gasperini memilih pergi, dan manajemen menunjuk Ivan Juric sebagai penggantinya. Masa kerja Juric ternyata hanya berlangsung beberapa bulan, sebelum akhirnya berakhir. Atalanta merosot ke papan tengah Serie A, sementara konflik antara Juric dan Ademola Lookman dalam laga Liga Champions melawan Olympique Marseille ikut menambah tekanan di dalam ruang ganti. Klub akhirnya memutuskan untuk memecat pelatih asal Kroasia tersebut demi menjaga stabilitas tim.

Raffaele Palladino kemudian mengambil alih dan berhasil membawa Atalanta finis di posisi keenam Serie A, sekaligus meraih tiket ke Conference League. Timnya juga mencapai semifinal Coppa Italia, sebuah capaian yang tidak bisa dianggap remeh. Meski demikian, perjalanan di Liga Champions harus berakhir di babak 16 besar setelah kalah dari Bayern München dengan agregat 5-7, berdasarkan skor dua leg 1-6 dan 4-1. Palladino dikenal memilih pendekatan menyerang dan menekan tinggi, termasuk ketika menghadapi Bayern, dan risiko tersebut berujung mahal. Kendati begitu, ia tidak menyesali taktik yang diterapkannya, karena menurutnya cara bermain itulah yang membawa tim melangkah jauh di kompetisi domestik.

Scamacca Menjadi Ancaman Utama bagi Ajax

Musim ini, Maurizio Sarri dipercaya memimpin proyek baru Atalanta. Ia datang dengan pengalaman luas setelah menangani sejumlah klub besar seperti Lazio, Juventus, Chelsea, dan Napoli. Kekalahan 3-2 dari AC Milan memang tidak menyenangkan, tetapi Gennari menilai skor tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan jalannya pertandingan. Menurutnya, Atalanta saat ini berada dalam performa yang bagus, dengan sembilan gol tercipta dalam tiga pertandingan terakhir, ditambah satu bola yang membentur tiang gawang serta begitu banyak peluang yang seharusnya bisa menambah jumlah gol. Catatan tersebut menunjukkan potensi serangan Atalanta yang sangat berbahaya jika dibiarkan berkembang.

Perhatian Ajax tentu patut tertuju pada sosok Gianluca Scamacca. Penyerang berusia 27 tahun dengan tinggi 1,95 meter itu pernah memulai karier profesionalnya di PSV, lalu melanjutkan perjalanan di Serie A dan Liga Primer. Ia sempat menjalani peminjaman singkat di PEC Zwolle sebelum akhirnya bergabung dengan Atalanta pada tahun 2023 sebagai calon pengganti Rasmus Højlund yang dijual ke Manchester United. Scamacca mencetak gol melawan Pafos pada Kamis lalu, dan menurut Gennari, penyerang tersebut juga baru saja mencetak gol untuk tim nasional Italia di ajang Nations League. Meski penampilannya tidak selalu konsisten, Scamacca dinilai sebagai pemain yang sangat penting dan mampu menentukan hasil pertandingan ketika berada dalam kondisi terbaiknya.

Bagi Ajax, ancamannya jelas: tekanan tinggi yang diterapkan Atalanta dan kehadiran Scamacca di lini depan dapat menghukum setiap kesalahan saat membangun serangan dari belakang. Namun, catatan pertahanan Atalanta yang masih perlu diperbaiki juga membuka ruang bagi tuan rumah. Pertarungan penting kemungkinan besar terjadi ketika Ajax mencoba keluar dari pressing lawan dan menyerang ruang yang ditinggalkan pemain-pemain Atalanta ketika mereka naik ke depan. Efektivitas Ajax dalam memanfaatkan celah tersebut bisa menjadi penentu arah pertandingan.

Atalanta memulai kampanye Conference League dengan kemenangan meyakinkan atas Pafos. Di Serie A, mereka sementara berada di posisi kesepuluh setelah kekalahan dari Milan, sebuah posisi yang tentu belum mencerminkan ambisi klub. Gennari menyebut bahwa sasaran Atalanta musim ini mencakup lolos ke kompetisi Eropa dan melaju sejauh mungkin di Conference League, sementara proyek teknis baru yang dijalankan Sarri juga perlu berjalan dengan baik agar fondasi tim semakin kuat ke depannya.

Perubahan dari era Gasperini tentu bukan perkara ringan bagi klub maupun para pendukungnya. Gasperini memilih pergi meskipun manajemen Atalanta menawarkan kontrak yang menggiurkan, sehingga tahun ini klub harus memulai lagi dari nol di Bergamo. Proses itu membutuhkan waktu dan kesabaran, tetapi kepercayaan terhadap proyek baru tetap terjaga. Di Amsterdam, Ajax mendapat kesempatan untuk membalas kekalahan 2-1 dari Hajduk Split pada Kamis lalu. Atalanta datang dengan serangan produktif, tetapi juga membawa pekerjaan rumah di lini belakang. Laga di Johan Cruijff ArenA akan memperlihatkan apakah Ajax mampu memanfaatkan celah tersebut sekaligus menahan gelombang tekanan yang dipersiapkan Sarri bersama skuad barunya.

Penulis